Anak-anak jaman sekarang, kecil-kecil sudah mulai berpacaran. Anak tetangga saya
yang masih duduk di bangku SMP sekaligus nyantri di pondok pesantren,
merasa iri, melihat hampir seluruh temannya sudah berpacaran.
Libur
lebaran kali ini si anak itu pulang dari Pondok Pesantren. Memang, orangtuanya
sengaja memasukkan putri pertamanya itu ke sekolah lanjutan sekaligus
mendaftarkannya ke pondok pesantren.Jarak rumah dan pesantren cukup
jauh, sehingga anak itu hanya bisa pulang 4-5 kali saja dalam setahun.
Berat
memang, melepas anak yang masih belia untuk hidup jauh dari orangtuanya Namun, pertimbangan orang tua itu cukup kuat. Ia ingin anaknya
lebih fokus belajar tanpa khawatir pergaulan yang terlalu bebas. Di
pesantren, dengan jadwal belajar dan pengawasan yang ketat, membuat anaknyalebih disiplin. dan sejauh yang saya tahu hampir tiga tahun anak itu menjalani sekolah dan kegiatan rutin di pondok pesantren, tidak ada
hal yang menghawatirkan perkembangan jiwanya.
bagaimana tidak geram,Blogernas telah dengan suksesnya menjungkirbalikan paradigma saya mengenai beberapa hal yang selama ini saya anut.dalam hal bloging misalnya saya sudah tersesatkan dengan beberapa postinganya yang kerap di lakukan bloger sebut saja postingan-postingan bernada "menggugat" seperti serial kentut banyak sentilan diserial ini tentang aktifitas komentar dan blog walking.atau postingan yang di beri label serial konyol,khusus di serial ini kalau saya pribadi mbacanya kepala saya terasa pening pengen muntah dan selanjutnya saya manggut-manggut saja sambil berkata "luar biasa".
dari segi bahasa dan pemilihan judul anda harus sepakat dengan saya,bahwa blog ini unik dan piawai dalam mempengaruhi emosi pembacanya,maka anda jangan heran jika dalam beberapa postinganya banyak sekali perdebatan di sana sini.dan yang lebih seru dan menarik adalah postingan blogernas mengenai Al-qur'an,sebelum saya mengelupas blogernas,saya sajikan dulu beberapa judul postinganya di bawah ini,pesan saya siapkan iman anda terlebih dahulu
- Al-qur'an itu menyesatkan
- Al-qur'an dibakar? Syukur!
- Membela Al-qur'an? Omong Kosong!
- Al-qur'an dibakar tapi Tuhan Cuek Bebek
- Al-qur'an Juga Dibakar Blogernas!!!
Kembali ke soal perbincangan saya dengan beberapa petugas pom bensin. Hal yang beberapa bulan ini saya tanyakan ke mereka di berbagai tempat pom bensin adalah apakah mereka tidak pusing mencium bau bensin setiap hari dan kenapa mereka tidak memakai masker penutup hidung agar mengurangi uap bensin yang terhirup.
Hal tersebut saya tanyakan, karena saya saja yang berdiri sebentar sambil ngobrol, sudah langsung pusing karena menghirup bau bensin tersebut.
Mereka, yang saya tanyakan semuanya menjawab bahwa sebenarnya mereka juga pusing. Mereka merasakan dada yang sesak. Dan makin parah lagi kalau pas mereka sedang sakit, katakan saja flu, perasaan sakit di dada semakin menjadi.
Perusahaan melarang mereka memakai masker karena demi pelayanan ke pelanggan. Mereka diwajibkan untuk tetap tersenyum ketika melayani pelanggan. Dan sambil berkata "dimulai dari nol ya, Pak/Bu". Mereka bilang, kalau mereka pakai masker, mereka tidak bisa lagi menunjukkan senyum mereka ke para pelanggan, dan itu akan dianggap tidak sopan karena tidak menghargai pelanggan.
Saya kaget mendengar jawaban mereka. Jawaban mereka semuanya seragam. Jawaban mereka pun semakin diperkuat dengan iklan Pertamina di televisi yang mengutamakan senyum petugasnya ketika melayani pelanggan.
Ironisnya, di balik senyum yang mereka berikan, ada derita yang harus mereka tanggung dengan mencium uap bensin setiap hari yang dapat memberikan gangguan yang serius kepada kesehatan mereka, khususnya paru-paru dan otak mereka.
Saya sudah mulai merasa tidak nyaman karena tahu di balik senyuman petugas pom bensin ada derita yang harus mereka tanggung akibat menghirup uap bensin.
Sekedar tambahan catatan, untuk pom bensin yang buka 24 jam, diterapkan tiga shift kerja. Kurang lebih mereka bekerja seharinya sekitar 8-9 jam. Jumlah jam yang cukup lama untuk menghirup uap bensin terus menerus.
Lebaran tahun ini seperti lebaran-lebaran sebelumnya di warnai peluk cium melepas rasa rindu dan saling memaafkan antara sanak keluarga melengkapi hari kemenangan. Suara dering handphone berkali–kali terdengar dari saku mereka semua. SMS lebaran! Hampir semua anggota keluarga mengantongi yang namanya hape. Jaman sekarang siapa sih yang gak punya hape?
Meskipun sudah berkali-kali saya juga menerima dan mengirimkan SMS yang sama, tapi baru kali ini terpikirkan oleh saya. Di jaman yang semakin modern ini, apa sih yang gak mungkin? Apa sih yang susah? Bahkan silaturahmi untuk meminta maaf pun bisa lewat SMS. Lalu ke mana nilai kesakralan dari makna silaturahmi?
Salah satu kegiatan Lebaran yang mustahil diabaikan adalah membalas dan
mengirim SMS Lebaran. Luar biasa peran SMS ini dalam menyiapkan paket
lebaran yang praktis, efisien dan murah.
Begitu praktisnya hingga sekian silaturahmi hanya butuh sekian pencetan.
Begitu efisien karena hanya dengan mengetik satu ucapan kita bisa
menduplikasi sebanyak yang kita suka. Begitu murah karena hanya cukup
dengan ratusan perak, kita bisa menjangkau seseorang yang malah sedang
pergi ke lain benua. ‘’Saya sedang di Roma,’’ balas seorang teman cuma
dalam hitungan menit.
Tapi begitulah galibnya sebuah berkah, ia sekaligus juga menggandeng
musibah. Karena begitu praktisnya sehingga yang praktis itu malah
demikian menyita kegiatan kita. Karena praktis, gampanglah kita
melakukannya. Karena gampang, seringlah kita melakukannya. Karena sering
jadilah kita selalu melakukannya. Karena selalu, jadilah waktu kita
habis untuk melakukannya.
Maka tak aneh, jika sudah jauh-jauh kita mudik, sudah capek kita muter
menemui kerabat dan saudara, tapi setelah ketemu, kerjaan kita cuma
memencet-mencet keypad handphone belaka. Suami mencet, anak-anak mencet,
istri mencet, maka lupalah kita pada saudara jauh yang tengah berada di
depan mata. Tapi ooo, saudara itu pun manusia biasa seperti kita. Jika
kita ber-handphone, mereka punya juga. Jika kita mencet, mereka mencet
juga. Jadi, susah-susah kita saling ketemu, akhirnya cuma saling
menghabiskan waktu untuk saling pencet bagi seseorang yang jauh dan
tidak sedang di depan kita. Inilah paradoks handphone itu, ia
mendekatkan orang jauh dan menjauhkan orang dekat.
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
