Tags Sekedarnya, sekitar kita
Mobil itu melaju kencang. Berpacu di jalan yang tidak mulus. Salahkan saja hujan, sebagai perusaknya. Maka semua pihak merasa senang. Di dalam mobil, dentuman album metal paling anyar domba tuhan, dengan hentakan double pedal dan irisan dawai logam membentur-benturkan kepala ketiga anak muda usia penumpangnya.
17:23. Langit pinggiran metropolitan masih dijilati matahari. Menyisakan rona senja yang memagut mata. Jalan yang dilewati mulai menyempit. Speedo meter menyusut sistematis. Musik meraung belum sampai di ujung kapasitas keeping bajakan. Adzan perlahan berkumandang mengiringi memerahnya warna langit. Di dalam mobil kini sunyi, metal domba tuhan dimatikan begitu saja. Ketiga pasang mata anak muda tampak jelalatan. Bagai elang melihat tikus tanah. Ketika sumber suara jelas menyembul di balik rimbun pepohonan, sumringah rona wajah mereka.
Maka kekuatan yang tak terkalahkan adalah ketabahan. Karena ketabahan adalah elastisitas. Ketika mengisi berarti dia mengosongkan, ketika mengosongkan berarti mengisi. Itulah dimensi hidup.
semoga tidak macet lagi,ngeblognya :P
Tags Cerita kemaren, Mentari Pagi, Sekedarnya
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda