Catatan pribadi tentang apa saja

Minggu, 31 Oktober 2010

Hot Spotan di Pekalongan untuk siapa?

Oleh : Blog'de
 
Kalau jalan-jalan ke kota-kota atau Kabupaten hal yang menarik dan pertama saya cari adalah alun-alunya,di alun-alun ini biasanya saya duduk santai sambil menikmati segala yang ada,biasanya sebuah alun-alun kota/kab adalah representasi dari kota/kab itu sendiri,kita bisa menemukan kekhasan daerah tersebut dari alun-alunya
 
Kali ini saya berada di Kota batik Pekalongan,melihat tampilan alun-alun kota Pekalongan saat ini sungguh menyegarkan mata. Lapak-lapak pedagang kaki lima dan kantong-kantong parkir yang dulu tampak "mengotori" kawasan alun-alun, kini telah tertata rapi di seputaran lapangan. Di tengah lapangan, hanya ada hamparan rumput hijau yang terpotong rapi. Pemerintah kota tampaknya serius menangani penanda kota ini.
 
Saat saya menghidupkan perangkat wi-fi di laptop, tampak indikator jaringan hotspot berkedip-kedip. Ada empat sinyal wi-fi gratis di alun-alun Pekalongan, dengan kecepatan akses yang lumayan. Namun, keasyikan berselancar agak terganggu dengan kehadiran seseorang tak dikenal yang mendadak menghampiri dan mengamati gerak-gerik saya.

Saya pun melihat sekeliling, dan ternyata, hanya saya sendirian yang membawa laptop. Tidak ada gerombolan muda-mudi yang kerap saya temui di tempat-tempat yang menyediakan hot spot gratisan. Khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan, saya pun segera mengemasi barang-barang, dan beranjak ke mal yang berada tak jauh dari alun-alun.

Pemerintah memang telah menata ulang alun-alun serta memberikan fasilitas hotspot gratis. Namun, rupanya, fasilitas itu belum menarik minat para "hotspoters" Pekalongan. Buktinya, tak banyak pengunjung yang memanfaatkan jaringan internet gratis ini. Mereka lebih banyak terlihat bergerombol di kafe-kafe yang menyediakan fasilitas serupa.

Padahal, bila mau, para pengguna laptop dapat berselancar dengan sinyal wi-fi tak berbayar, sembari menikmati suasana serta sajian makanan dan minuman di seputaran alun-alun kota. Namun, ketidaknyamanan menjadi alasan para hostpoters ini enggan berlama-lama di rerumputan hijau alun-alun yang menggoda itu.

Ketiadaan petugas keamanan yang berkeliling di sekitar alun-alun menjadi salah satu alasan, mengapa kawasan ini "terlihat" tidak aman. Peran petugas kemanan ini penting, untuk memberikan kepastian kepada pengunjung bahwa kawasan ini benar-benar dijaga oleh pihak yang berwenang.

Selain petugas keamanan, rasa nyaman bisa dibentuk dengan "pengamanan bersama". Artinya, para pengunjung secara bersama-sama menjaga keamanan mereka sendiri. Caranya, tentu saja, dengan saling berinteraksi. Bila komunikasi telah terjalin, rasa saling percaya akan muncul. Tidak akan ada rasa curiga kepada orang di sekitar.

Untuk menumbuhkan ini, dibutuhkan waktu tidak sedikit. Diperlukan pula kontribusi pemerintah untuk menyediakan infrastruktur yang memadai agar menarik semakin banyak orang berlama-lama menghabiskan waktu di alun-alun.

Saat ini, memang, kawasan itu telah tertata rapi. Rerumputan hijau itu pun cukup nyaman untuk disinggahi. Namun, belum ada bangku-bangku taman di bawah rindangnya beringin besar di sudut dan pinggir lapangan. Di siang yang terik, kehadiran bangku di bawah rerimbunan pohon, pasti akan sangat menarik.

Bangku-bangku taman, juga lebih berguna bagi pengunjung ketimbang videotron raksasa di sisi timur lapangan yang hampir sepanjang hari menyiarkan iklan dari sponsor.

Pasokan listrik juga menjadi hal penting bagi para pemburu hotspot. Sebab, daya tahan baterai laptop seringkali tak maksimal. Soal ini, Pemkot dapat belajar dari Pemkab Batang. Di alun-alun kota tetangga itu, disediakan ratusan stop kontak beraliran listrik bagi pedagang dan pengunjung. Pedagang yang memanfaatkan listrik itu dimintai retribusi Rp 1.000 perhari. Sementara, para pengunjung yang mengecas laptopnya tak dikenai biaya.

Bila memang pemerintah serius mengolah kawasan alun-alun kota, maka hal-hal "perinthilan" macam ini pun seharusnya menjadi perhatian. Jadi, bukan hanya menyediakan fasilitas dan lantas mengabaikan efektivitas penggunaannya. Evaluasi harus terus dikalukan, agar proyek berbiaya mahal itu tak hanya menjadi sekadar "proyek mercusuar".
*foto dr sini 
Continue Reading…

Kamis, 28 Oktober 2010

Mulutmu Harimaumu Pak Ketua,, !

Bukan sok latah ikut2an mengecam pernyataan pak ketua DPR kita satu ini,tapi kayaknya harus di latahi bahkan kalau perlu di ekspos di tv biar kapok tuh..

dari ulah marzuki ali yang asal “nyeplos” ngomong pindah saja kedaratan kalau tidak ingin kena resiko tsunami,coba bilang ama warga jakarta yang kena banjir mulu,pindah saja kedesa apa mereka mau,atau gini saja khawatir kena gempa di daratan jgn tinggal didaratan tinggal aja dipegunungan, klo pegunungan khawatir meletus tinggal aja di lembah2, klo lembah khawatir kebakaran tinggal aja di pesisir, klo khawatir pesisir kebanjiran tinggal aja di pantai.... dstnya. khawatir terus kapan enaknya pak ketua?

Apa jadinya kalau pejabat sekelas Marzuki Alie tidak bisa menunjukkan rasa empatinya kepada anak negeri Sumbar yang sedang berduka karena kehilangan sanak saudara yang menjadi korban tsunami di Mentawai, selengkapnya begini pernyataanya pak ketua kita satu ini saya kutip dari sini

"Mentawai kan jauh. Itu konsekuensi kita tinggal di pulaulah," kata Marzuki di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (27/10/2010). "Kalau tahu berisiko pindah sajalah," imbuhnya. 
"Kalau rentan dengan tsunami dicarikanlah tempat. Banyak kok di daratan," sambungnya. 

Memindahkan orang, tidak sama dg mencabut pohon yg sudah berakar dari tempat tumbuhnya. Kultur budaya dan hidup di pantai tidak bisa disamakan dengan di daratan/pegunungan, begitu pula sebaliknya pak ketua.. 
Begini saja pak ketua,dari pada pak ketua koment sana-sini yang gak jelas dan menuai hujan kritik bahkan dari dalam partai anda sendiri mengkritiknya,ada baiknya saya ajari bapak membuat pernyataan yang sedikit elegant,kira-kira begini pak ketua 

Negara kita ini terletak di titik yang rawan bencana seperti gempa, tsunami, gunung berapi, topan, dll. Karena itu saya himbau kepada rakyat Indonesia agar selalu waspada dan senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang pengurangan risiko bencana, bahkan sejak usia dini......

Coba pak ketua,bandingkan pernyataan bapak dengan saya enakan mana hayoo?? :P
 
Continue Reading…

Selasa, 26 Oktober 2010

Wedus Gembel

Tadi liat siaran berita tv rasanya sangat miris,
dari kemaren cuma mbaca berita isinya macet,banjir di jakarta.

Gempa Mentawai belum selesai dari tsunaminya,ayo pak presidenku cepat pulang,ini gimana? 

yang sabar ya poro sedulur kabeh.. 
teman-teman Bloger ada yang rumahnya dekat-deket gunung merapi gak?
kalau rumahku jelas dekat dengan gunung,namanya gunung slamet,berapi dan terkadang berdehem dehem mengeluarkan awan seperti wedus gembel kuwi lho,tp alhamdulilah gunung dekat rumahku itu sampai sekarang slamet-slamet saja,mungkin karena namanya Gunung slamet juga kali ye.. 

Teman-teman Bloger dari jakarta yang sabar juga ya,walaupun keadaan lagi banjir tapi tetep eksis Blogwalking,salut... 

gimana siapa saja yang rumahnya kebanjiran?siapa saja yang rumahnya kena gempa sumatra,siapa yang lagi pada ngungsi di kawasan gunung merapi...

wis ayo podo semangat lagi.......smoga smuanya baik-baik saja 

wedus gembel,kalau di BBC istilahnya apa yah??

gbr dari sini

Continue Reading…

KAU BALUT LUKA DENGAN JILBABMU


Ya Allah aku tak kuasa melihatnya, wajah putihnya berubah merah. Bagai kepiting rebus lunak siap santap. Karena air mata yang tertahan di pelupuk mata. Ingin aku menenggelamkannya ke dadaku agar segala beban tersandar, agar segala kerinduan tercurahkan. Agar dia tahu ada aku yang selalu ada untuknya ada aku yang akan menghapus air matanya.
“kenapa minta pulang?”
“capek, disini dari sore. lagian kalo pulangnya telat entar kena marah sama bunda”
Nesya berlalu menuju parkiran, kutarik tangannya, dia menoleh. Aku melihat air matanya terjatuh membasahi pipi, dagu dan jilbab yang dikenakannya.

“secapek apa sih? Sampai Nesya nangis kaya gini?
“siapa yang nangis. Tadi kena debu tahu!”
“ya udah kalo nggak mau ngaku. Kalo ntar dada kamu meledak gak sah minta tolong ya!”
“yyyeeeeeeeeee,,,,,,,,,,,,,,,,,, bom waktu kali!”

Ku stater motorku meninggalkan cafe faforit kita. Berjalan ke arah selatan menyusuri jalan penuh kenangan . kami bisu diantara lalu lalang kendaraan. Sebenarnya banyak pertanyaan di benakku. Apa yang terjadi pada Nesya? Kulihat traffic lamp berwarna merah. Aku mengerem motorku tepat di tangah-tengah pengemudi kendaraan yang lain.

“Kita belok kiri aja.”
“Belok kiri??? Kita kan mau pulang. Kalo mau belok kiri ngapain tadi kita berhenti?”
“Halooo Rama yang super cute. Yang berhenti kamu kaliiiii bukan kita! Lagian supirnya siapa lagi. Aku belon pengin pulang. Masih pengin di sini ngademin ati”
“Ya udah pulang aja sana! Masukin frezer”

Aku jadi kaya orang utan yang baru masuk kota melihat traffic lamp, buta huruf lagi. Sudah jelas ada tulisan KIRI JALAN TERUS la ini belok kiri pake acara berhenti nungguin trafic lamp berubah kuning . rasa-rasanya semua pengendara di sekitarku menertawaiku tanpa ampun. Aku masih menyusuri jalanan kota yang ramai. Ya tentunya masih ada sikecil Nesya di belakangku. Kenapa aku menyebutnya kecil??? Ya..............memang dia kecil. Bayangkan. Tinggi badan 148cm di umur 19th dengan berat badan 40kg. Kadang aku menyebutnya kurcaci. Sudah barang tentu dia marah. Tapi dia nggak akan marah disebut ‘cah cilik’. Dia bilang itu fakta. Bagiku Nesya adalah sahabat,adik,sodara bahkan kadang-kadang jadi musuh (kalo lagi berantem). Dari orok kita sudah bareng. Nesya lahir saat aku mulai balajar merangkak, kata ibu usiaku 2bulan. Dari belajar berjalan, dari TK sampai SMP bahkan di TPQ kita selalu bersama.

Kata Bapak Ibu guru kami, di sekolah maupun di TPQ aku jauh lebih pandai dari Nesya. Hal itu memang terbukti dari hasil rapor kami. Tapi nesya hebat dia selalu berusaha untuk jadi yang lebih unggul dari aku.walupun usahanya bisa dibilang sia-sia. Setiap penerimaan rapor kami selalu punya perjanjian. Siapapun yang lebih unggul dia berhak mendapatkan coklat merek terlezat dari yang tertinggal. Tentu saja aku yang selalu mendapatkan coklat tersebut.tapi aku tidak pernah menikmatinyya sendiri, aku selalu membaginya sama nesya.walaupun aku tidak membaginnya Nesya selalu memintanya secara paksa.
Kita masih melenggang diatas jalan raya. Melewati sebuah bangunan klise. Dulu aku sama Nesya belajar bersama selama enam tahundengan seragam merah putih kebanggaan kami. 

“Jadi inget Rama dulu, masih ingusan”
“Sekarang sya???”
“Sekarang upilan. Tu jorok banget!”
“Hihhh,,,,,,,,,,,,,,,,ngatain orang. Dasar!”
“Hahahahahahahaha,,,,,,,,,,,”

Anganku terbang bersama gelak tawa Nesya. Andai kita tidak terpisah saat SMA. Aku pasti bisa ngemong dia dengan jarak yang sangat dekat dan intensif. Tapi apa boleh buat, aku cuma bisa memandang kesemrawutan nesya dengan jarak jauh. Nesya yang cuek, Nesya yang nakal. Sebenernya kita terpisah bukan karena sekolah kita berbeda tapi karena sudah ada yang menjaga nesya. Aku cuma mundur teratur. Tapi jangan salah, Nesya sekarang adalah manusia reingkarnasi dengan perubahan 180 . Biar tetep cerewet tetapi selalu mengontrol tutur kata. Kemanapun pergi jilbab selalu jadi tutup kepala. Sekarang waktu menyatukan kita. Ya walaupun sama-sama sibuk kuliah tapi selalu nyempetin ketemu, biasanya sih malam minggu kaya gini. Sekarang aku akan menjaga nesyaku, menjaga sobat kecilku. Syukur-syukur dia memang amanat dari Tuhanku untuk hidupku.

Aku marasakan pundakku mendapatkan sebuah beban, membuyarkan lamunan yang telah jauh menggantung bersama angin. Aku mencoba memeriksanya lewat kaca sepionku, sepertinya aku menemukan sesuatu disana.

“Ram,,,,,,,,,,,,,aku bolehkan pinjem pundakmu?”
Suara nesya mengagetkanku bersama dengan teriakan perempuan didepanku.
“Awassssssssssssssssssssssssssssssss,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Dan,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,brakkkkk aku menabrak becak dengan penumpang perempuan paruh baya.
“Rama hati-hati dong.” Lanjut nesya

Kuhentikan motorku. Alhamdulillah tidak ada korban. Baik luka ringan, berat maupun korban jiwa. Cuma dadaku sekarang dagdigdug kenceng banget.melebihi nara pidana yang akan dieksekusi mati,. Melebihi pengantin pria yang akan mengikrarkan ijab kabul. Bukan karena abang becak yang ngomel-ngomel memarahiku. Tapi karena nesya, nesya menyandarkan diri sepenuhnya kepudakku, eeeee gak ding Cuma kening doang.
Kita masih diam memandangi keramaian lalu lalang orang yang bermalam mingguan. Kata Jamal mirdad “malam minggu malam yang panjang, malam yang asik buat pacaran” tapi itu tidak berlaku buat aku. Malam minggu kaya gini aku harus nemenin nesya yang manyun, menekuk wajah seperti burung hantu. Diketawain orang ditengah lampu merah, kena marah sama abang becak gara-gara naik motor meleng. Nesya turun dari motorku. Duduk disebuah bangku kecil dibawah pohon beringin.

“Jangan disitu entar dikira anak tuyul ilang. Lagian tu rebutan O2 sama om pohon, entar pingsan repot deh bawa pulangnya.”
“Ihhh ngasal banget sih. Biarinlah mati juga gak papa besok-besok malah mo bawa tambang kesini”
“Yeeeee,,,,,,inget kamu punya utang ma aku Rp10000 makan bakso kemarin. Bayar dulu baru mati”
“Ya Allah pelit banget sih. Duit Rp10000 ja di ributin”
“Bukan pelit. Justru aku sayang kamu karena duit Rp10000 itu bisa menghambat perjalanan kamu di akherat”
“Ram kalo kamu marasakan kerinduan diatas kebencian apa yang kamu lakukan?”
“Mang kangen sama sapa sih???”
“Seseorang yang dulu mengaku kalo aku segalanya.tapi sayang tidak ada yang abadi di dunia ini”
“Ihhh ngomong yang jelas dong!!! Mang siapa sih???”
“Aduhhhhhhhhh.”
“kenapa Sya?”
“Pengin pipis. Ketoilet dulu ya. Rama tunggu sini, nitip tas”

Nesya ngeloyor pergi sambil melempar tasnya. Aku Cuma bisa geleng-geleng kepala ngeliat tingkah nesya yang aneh. Susah ditebak. Memandang tas nesya seperti ada magnet yang menuntun tanganku untuk membukanya. Entah kenapa aku bener-bener penasaran ingin mengetahui isi tasnya. Eitsssss tunggu dulu aku bukan klepto lo. Aku Cuma pengin tahu aja, benda-benda penghuni tas nesya itu apa aja sih? Dengan seribu keberanian kubuka resleting tasnya. Mungkin aku nekad, tapi biarlah. Toh nyatanya rasa penasaranku mengalahkan segala rasa didalam diriku. Aku menemukan minyak angin dengan botol kecil, imut. Aku sempat terkekeh mendapatinya, mungkin orang-orang pikir aku gila, tapi biarlah yang apenting aku puas. Tu anak kaya nenek-nenek pikirku. Aku melihat dompet panjang dengan warna coklat muda bergambar tedy bear, dengan tangan gemetar aku raih benda itu. Sekali lagi aku tidak ada minat untuk mencuri, nyolong atau apalah. Aku sendiri masih heran kenapa rasa penasaranku sebegini besarnya? Kubuka dompet itu perlahan, Subhanaallah aku benar-benar tidak tertarik dengan sejumlah uang yang ada di dompet nesya, kartu ATM? Apa lagi KTP? Gak penting. Tapi aku benar-benar terkejut mendapati sebuah foto dengan wajah ceria nesya dengan seorang cowok.

“Rama ko’ gitu si?!?!?” tiba-tiba nesya datang. Marah. Aku jadi celungukan. Aku bener-bener bodoh diantara orang bodoh. Aku kayak maling yang aketangkap sama tuan rumah.
“Maf sya a,,,,,,,,,,a,,,,,,,,,aku tidak,,,,,,,,,,,”
“Aku ngarti, kamu nggak mungkin nyolong!!!!! Tapi aku gak suka kamu kaya gitu!!! Melanggar privasi tauuu”
“ Iya sya maaaf,,,,,,,,,,tapi jangan ujan lokal gitu dong”
“Mau tak banjiri sekalian!!!” 

kami berdua terdiam. Aku nggak perduli nesya marah atau nganggep aku kurang ajar. Yang merajai pikiranku sekarang adalah foto di dompet itu. Aku kenal cowok itu. Seperti halnya keberanianku mengobrak-abrik tas nesya. Aku pun harus punya keberanian untuk menanyakan hal ini. 

“Cowok itu siapa sya?”
“Dia yang dulu mengaku aku adalah segalanya. Tapi tidak ada yang abadi ram”
“jadi ini yang bikin nesya nangis, minta pulang dari kafe?”
“cewek mana yang tahan ngeliat orang yang pernah menyakitinya jalan sama cewek lain. Sama sepupu kamu. Sedang dalam segala perubahanku aku masih selalu memohon pada Allah, agar dia kembali lagi sama aku.”
“Kamu berubah karena dia, bukan karena Allah?”
“Entahlah. Aku jadikan jilbab ini sebagai benteng bukan tameng (kedok). Dalam keadaan sepertiku setan mudah mempengaruhi, jadi aku harus punya pegangan yang kokoh. Agama. Tapi sekarang semuanya berakhir. Aku kecewa karena lukaku sendiri.”

“Setetes embun untuk hati yang gersang.
Semoga”
Continue Reading…

Selasa, 19 Oktober 2010

The Miracle of Giving-nya salah tempat

Jadi kalau ada selebaran di mushola atau mesjid biasanya isinya tentang khutbah-khutbah,atau informasi ada kegiatan pengajian ,tapi selebaran ini yang saya dapat beberapa hari lalu waktu sholat jum'at agak sedikit aneh. 

The Miracle of Giving-Nikmatnya Sedekah lengkap dengan foto diri dari Ust.Yusuf mansyur.mari kita buka perhalaman selebaran itu;diawal halaman disana ada artikel yang membahas tentang khasiat sedekah dan mengutip beberapa khadits dan ayat tentang sedekah,halaman berikutnya ada testimoni-testimoni,tunggu ada yang kelewat! di cover depan ada tulisan ;Program ini dapat di ikuti oleh semua orang tanpa pandang bulu..bla..bla dan ini berlanjut sampai ke halaman 5 dan kesimpulan saya,selebaran ini tentang sedekah bersama.

Sedekah bersama? sound cool... apa coba yang nggak bagus dari sedekah,bersama-sama pula.Tapi,bukan seperti yang saya bayangkan rupanya.Program sedekah disini adalah program sedekah untuk siapa,mampu atau tidak dan sangat mengharapkan balasan dari orang lain.dengan cara kerja yang hampir sama dengan MLM.cari orang sebanyak-banyaknya biar semakin banyak balasan yang di dapat.

mau di katakan penipuan,ya bukan penipuan,pembodohan kalau menurut saya lebih tepatnya.disana juga tertera angka2 rupiah yang begitu menggiurkan sebagai total dari pendapatan yang di peroleh... busettttttttt saya kaga tega untuk menuliskan angka nominalnya.

kasian ustad yusuf masnyur namanya dibawa-bawa

ada-ada saja sih orang-orang sekarang bikin kayak ginian,benar-benar merusak makna sedekah yang sebenarnya,,, eh emangnya makna sedekah apa yak...*kabur*


Continue Reading…

Sabtu, 16 Oktober 2010

Facebook;ajang manipulasi diri??

Apakah anda pernah menulis status facebook misalnya ingin bolos kerja atau misalnya lagi anda berkeluh kesah di status facebook tentang atasan anda yang mengesalkan karena memberikan tugas yang berlebihan?sekali lagi ini cuman misalnya,tapi kalau jawabanya iya maka anda harus berhati hati mulai dari sekarang karena banyak intel-intel yang sedang memata-matai anda.

Publikasi Tempo (27 sept'2010) menyebutkan bahwa beberapa perusahaan pencari kerja memanfaatkan facebook untuk mengetahui seperti apa background seseorang,bagaimana interaksinya sehari-hari serta apa saja tema-tema yang menjadi minatnya,tempo mencatat beberapa perusahaan besar di jakarta facebook dan twitter menjadi komponen utama yang di gunakan divisi HRD untuk memantau kualifikasi seseorang,memantau apakah seseorang layak untuk menyandang posisi tertentu. Mungkin anda bisa saja memberikan jawaban yang standar ketika proses interview berlangsung dan memanipulasi diri,tapi anda tidak bisa berkelit ketika di hadapan anda disodorkan print out hasil status-status facebook atau twitter,pihak perusahaan akan menganalisa siapa diri anda sebenarnya dari status-status itu. duuh segitu pentingnya yak? 

Penting banget menurut saya pribadi, sebab semua yang anda tuliskan di status adalah jejak yang menjelaskan siapa anda sesungguhnya.bahkan anda tidak butuh seorang sherlock Holmes untuk mengetahui semua fakta itu,anda hanya cukup mengumpulkan semua status saja dan kemudian di kaitkan satu sama lain,saya jamin anda sudah bisa mengetahui karakter seseorang hanya melalui apdet status, masih nggak percaya? mari saya tunjukan bukti yang lain.

Coba lihat saja kerja seorang psikolog/psikoanalisa untuk menganalisa kepribadian mereka mencatat semua struktur kalimat yang anda lepaskan lalu menganalisanya secara mendalam dan seksama bukankah hal itu dilakukan dengan mengamati status facebook seseorang?anda boleh saja tidak setuju dengan saya karena semuanya bisa di manipulasi mulai dari poto profil,info,status hubungan, dll, oke itu hak anda tapi ingat ketika anda memanipulasi sesuatu ,semua itu harus berjalan konsisten dan terus menerus,pertanyaanya adalah seberapa konsistenkah anda dengan memanipulasi diri di facebook?lebih berbahaya lagi nanti kalau ada peneliti yang menyimpulkan bahwa tatkala kita memanipulasi diri di facebook maka itu adalah cerminan diri kita juga,

nah sekarang marilah kita berefeksi seperti apa posisi sosial kita di dalam facebook ?

Continue Reading…

Minggu, 10 Oktober 2010

Siapa yang menggoda syetan

Siapa yang Menggoda Syetan? Syetan rupanya sangat bangga dengan tugasnya, menggoda manusia untuk berbuat jahat. Namun manusia yang satu ini rupanya juga penasaran. Kalau begitu, siapa yang menggoda syetan? katanya dalam hati. 

Orang itu tak lain Mukidin, pertugas pentakmir masjid di dekat rumahnya. Dia sekarang makmur karena bisa korupsi di sana sini. 

Suatu ketika Mukidin bertanya pada seorang Kiai Sufi. “Pak Kiai, syetan itu kan punya tugas menggoda manusia, lalau siapa yang menggoda syetan?” tanyanya agak sombong 
“Ya kamu itu yang menggoda syetan!” kata Kiai seraya mengumbar tawa. 

Mukidin pun ikut tertawa sampai-sampai perutnya yang buncit itu berguncang-guncang. Suasana sejenak hening, dan Mukidin hanya tertunduk sambil merenungi dirinya. Benarkah dirinya bisa menggoda syetan, sedangkan syetan dari ujung rambut hingga kakinya pun belum ia kenal? Setelah beberapa bulan ia menyadari akan tindakan buruknya selama ini, ia bertobat lalu mendatangi Kiai Sufi itu. 

“Benar Pak Kiai, saya memang sering menggoda syetan,” katanya. “Ya, kalau kamu tidak menggodanya, syetan tidak berani menggodamu,” kata Kiai itu yang disambut manggut-manggut Mukidin 

Continue Reading…

Senin, 04 Oktober 2010

Si Mahal Menubruk si Murah

hari-hari ini topik pembicaraan yang sedang hangat di SEKITAR KITA adalah apalagi kalau bukan tragedi kecelakaan KA di petarukan,pemalang.agak spesial karena saya sendiri rumahnya di daerah deket2 petarukan pemalang.saya kira semuanya sudah pada tahu tentang tragedi itu karena hampir semua media baik cetak,elektronik,maupun online serentak menurunkan laporan tentang kecelakaan itu,dan banyak cerita menarik yang tidak terungkap oleh media.

jam setengah empat pagi dini hari 2 oktbr tidak seperti biasanya banyak ambulan dan mobil polisi lalu lalang di sekitar jl.pemuda,tetangga bilang ada kecelakaan di petarukan,mulanya saya pikir kecelakaan biasa,setelah liat breaking news di salah satu stasiun TV baru saya tau telah terjadi musibah kecelakaan KA di petarukan

INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI'UUN semoga arwah beliau-beliau diterima di sisi Allah sesuai amal kebajikan mereka di dunia. semoga para keluarga dan handai taulan mereka diberi kesabaran, keikhlasan, dan ketabahan menghadapi musibah ini,begitu reaksi spontan saya ketika mengunjungi TKP sekitar pukul 01.00 sabtu siang.

jujur saya cuman menonton di antara ratusan penonton lainya,udara yang panas,bau anyir dan gosong,ceceran darah adalah situasi siang itu.subhanallah inikah kalau kiamat itu terjadi?tak terasa buluk kudukpun berdiri.

seumur-umur saya belum pernah naik kereta,paling banter naek yang kelas ekonomi dan ini tidak saya hitung pernah naik kereta tapi naek gerobak..biarin! lho apa bedanya KA yang kelas ekonomi sama gerobak? jwbnya sama....*sama-sama gak ada bedanya

dan  kecelakaan kemaren di daerah saya bukan kelas ekonomi tapi satu kelas di atasnya dan yang menabrak satu kelas lebih tinggi dari yang di tabrak.saya kutip statusnya mas prie.Gs di pesbuk,bgini stats beliau

Tabrakan kereta di Pemalang Jawa Tengah itu sungguh mengerikan. Bukan cuma karena akibatnya, tetapi juga karena penyebabnya. Bayangkan, ada kereta murah yang berhenti untuk mengalah demi memberi jalan kepada kereta mahal. Bukan rasa terimakasih yang ia
terima tetapi malah ditabraknya. Sungguh simbol keadaan.

simbol keadaan?yap.. yang kaya menendang si miskin,yang tinggi mendepak yang di bawah bukankah keadaan-keadaan ini sudah menjadi hal yang lumrah terjadi di negeri ini.kecelakaan itu mari kita maknai bukan sebagai jalan tercepat menuju sorga,seperti ideologi para teroris itu,tapi mari kita sikapi sebagai momentum untuk kita merenung bersama bahwa ada hikmah di balik semua musibah


.
Continue Reading…

Jumat, 01 Oktober 2010

Selamat datang di negeri spanduk dan Baliho (Jelang pilkada kab.Pemalang)


Indonesia adalah sebuah negeri spanduk dan baliho. Itu barangkali sudah kita anggap lazim karena sudah berlangsung lama, sehingga mata kita terbiasa menatap jalanan yang hiruk-pikuk oleh spanduk dan baliho warna-warni. Jika dibanndingkan dengan suasana di negara lain — tak usah jauh-jauh, Malaysia atau Singapura misalnya — jalan raya kita memang sangatlah meriah. Baliho iklan, papan pengumuman, spanduk penuh jargon, dan semacamnya, adalah penghias yang membuat jalan raya kita tampak penuh sesak.
spanduk-spanduk itu kerap mengundang senyum. Misalnya, teman saya tiap kali mudik dan keluar dari Bandara Juanda di Surabaya,sering melihat spanduk besar milik Polda Jatim, berisikan seruan (atau komitmen?) untuk memerangi narkoba. Spanduk semacam ini rada menggelikan,komentarnya.. sebab siapapun tahu bahwa narkoba tak akan bisa dibasmi dengan spanduk, melainkan dengan membabat para pengedar yang sebagian dibekingi oleh aparat keamanan sendiri.
 

Belakangan di banyak daerah, kemeriahan jalan raya itu masih ditambah dengan baliho besar berpampangkan foto-foto para pejabat politik. teknologi digital dan percetakan telah sangat memungkinkan setiap orang untuk membuat baliho dengan foto diri berukuran cukup besar, dengan biaya yang meski cukup mahal namun bisa dijangkau oleh mereka yang memiliki cukup anggaran. Para pejabat daerah (bupati, gubernur, sekda), atau mereka yang sedang mengincar posisi-posisi publik atau kepala daerah dalam pilkada, berlomba-lomba unjuk diri lewat baliho berpampangkan foto mereka, disertai kalimat-kalimat jargonis yang — seperti biasa — kerap minim makna.
tujuan utama baliho semacam ini sangat jelas: mengenalkan para pejabat publik, atau mereka yang mengincar jabatan publik, kepada masyarakat yang telah atau akan menjadi target konstituen mereka. oleh karena itu, terpampangnya wajah para tokoh ini jauh lebih penting ketimbang pesan ideologis atau program untuk disampaikan pada masyarakat.
apa sajakah implikasi fenomena ini? Ada beberapa hal. Pertama, membanjirnya baliho dengan foto besar para tokoh ini sangat mungkin mengindikasikan masih jauhnya langkah untuk membangun sistem politik yang terstruktur.Pola komunikasi politik yang dibangun lewat baliho-baliho bergambar itu sangat jelas memampangkan politik yang masih belum beranjak dari mekanisme personal, dimana pribadi seorang tokoh lebih dipentingkan ketimbang visi dan programnya.

Baliho-baliho ini tanpa ragu berpijak pada misi utama untuk menonjolkan bentuk fisik seorang tokoh, serta penjejalan sosok sang tokoh ke dalam memori masyarakat luas. Tentu saja, para politisi ini belajar dari pengalaman pemilu, pilpres dan pilkada sebelumnya, dimana kerapkali kebagusan dan kecantikan tampang seorang tokoh jauh lebih menentukan kemenangannya ketimbang faktor-faktor lain. Dengan kata lain, baliho-baliho narsistik ini mengindikasikan masih belum matangnya perilaku politik para kandidat dan para pemilih.

Kedua, baliho-baliho jual tampang itu menambah lagi variabel yang menyebabkan mahalnya prosedur demokrasi di negeri tercinta. Prosedur-prosedur demokrasi yang kita pilih semenjak tahun 1998 memang membuka peluang partisipasi politik yang kian luas dan transparan. Sayangnya, prosedur-prosedur tersebut juga berbiaya sangat tinggi.

Pilpres secara langsung misalnya, jelas-jelas menguras anggaran negara secara luar biasa signifkan. Pilkada langsung juga demikian halnya. Dalam satu pemilihan bupati/walikota oleh DPRD misalnya, sebuah kabupaten mengeluarkan biaya sekian ratus juta rupiah. Tentu saja ini biaya formal yang belum termasuk anggaran para calon untuk urusan money politics. Biaya formal ini telah membengkak hingga puluhan kali lipat ketika rakyat memilih bupati/walikotanya secara langsung. Kita tentu sangat paham bahwa biaya pemilihan gubernur secara langsung di propinsi seperti Jabar dan Jatim menelan biaya ratusan milyar rupiah. Jika harus terjadi pemilihan putaran kedua seperti di Jatim, biayanya juga kian membengkak.

Sekali lagi, itu baru biaya formal yang terkait dengan logistik pilkada langsung. Biaya lain yang juga sangat besar terkait dengan upaya peraupan suara oleh para politisi dan calon politisi. Tingginya biaya kampanye mereka, baik yang resmi maupun yang tidak resmi, bisa mengundang decak heran yang tak ada habisnya.
salah satu yang menyumbang pada pembengkakan biaya peraupan suara itu adalah narsisme para politisi dan tokoh yang kini berlomba-lomba memasang tampang di baliho-baliho di jalan raya. Akan kian runyam kalau kita amati bahwa sangat boleh jadi, sebagian biaya baliho itu dibebankan pada anggaran negara. Para politisi yang tengah menjabat kerap muncul di balik unjuk prestasi pembangunan daerah, yang ditampilkan dengan foto mereka secara sangat dominan. Anggaran dinas telah digunakan untuk ditumpangi dengan tujuan-tujuan narsistik para politisi.

Kini, bukankah sudah waktunya bagi kita untuk memikirkan prosedur demokrasi yang lebih ramah anggaran?

Wallahu a’lam bissawab.
 
Continue Reading…

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Sekitar Kita | Powered by Blogger
Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com