Catatan pribadi tentang apa saja

Kamis, 30 September 2010

Mari kita Mengeluh

setiap kali berkunjung ke rumah mayaku ini ada begitu banyak perasaan yang berkecamuk, sedikit lebay memang tapi kira-kira begitu untuk menggambarkan situasi yang sekarang sedang saya hadapi.

saya terkena penyakit "jenuh",tanda-tanda ini sudah terlihat saat bulan puasa kemaren sampai saat ini perasaan itu belum hilang.kalau dilihat dari piranti pendukung *haduuuh bahasanya..!* harusnya sih tidak ada kendala,saya hampir OL 24 jam apalagi saat ini di percaya mengelola warnet milik saudara sendiri,dirumah juga ada laptop punya bokap walaupun kalau mau OL harus keseberang jalan mencari udara yang mengandung hotspot,kurang apalagi coba? *kurang ajar* 

jangankan posting untuk sekedar blogwalking barang sejam aja malesnya minta ampun.padahal ritual blogwalking adalah cara primitif yang paling ampuh bagi blog yang buta SEO seperti saya,

walaupun  begitu adanya tapi setiap kali Ol yang pertama saya buka dulu pasti Bloger.com baru kemudian yang lain seperti facebook,twiter dll.di situs2 jejaring pertemanan perasaan jenuh juga melanda,akut banget malahan.di facebook misalnya bagaimana tidak jenuh tiap hari disuguhi sampah apdetan2 status yang nggak penting,di twiter lebih parah lagi saya sendiri masih nggak ngerti banyak tentang twiter itu maka pelabuhan terkahir sebagai tambatan hati adalah bloger.com,terlalu banyak alasan kalau di tanya kenapa saya suka ngeblog

okelah segitu aja dulu,lewati saja anggap saja ini postingan percobaan
hpy' bloging
 
Continue Reading…

Sabtu, 25 September 2010

Pak,saya belum punya pacar...



Anak-anak jaman sekarang, kecil-kecil sudah mulai berpacaran. Anak tetangga saya yang masih duduk di bangku SMP sekaligus nyantri di pondok pesantren, merasa iri, melihat hampir seluruh temannya sudah berpacaran.

Libur lebaran kali ini si anak itu pulang dari Pondok Pesantren. Memang, orangtuanya sengaja memasukkan putri pertamanya itu ke sekolah lanjutan sekaligus mendaftarkannya ke pondok pesantren.Jarak rumah dan pesantren cukup jauh, sehingga anak itu hanya bisa pulang 4-5 kali saja dalam setahun.

Berat memang, melepas anak yang masih belia untuk hidup jauh dari orangtuanya Namun, pertimbangan orang tua itu cukup kuat. Ia ingin anaknya lebih fokus belajar tanpa khawatir pergaulan yang terlalu bebas. Di pesantren, dengan jadwal belajar dan pengawasan yang ketat, membuat anaknyalebih disiplin. dan sejauh yang saya tahu hampir tiga tahun anak itu menjalani sekolah dan kegiatan rutin di pondok pesantren, tidak ada hal yang menghawatirkan perkembangan jiwanya.
Continue Reading…

Rabu, 22 September 2010

Kearifan Untuk Indonesia

Beberapa waktu lalu, stigma (negatif) sempat menggempur Kepolisian Indonesia,karena keterlibatan sejumlah oknum polisi dalam kasus Korupsi & Suap.Tapi tidak jarang,POLISI JUJUR juga mndapatkan tuduhan tendesius yang lebih buruk dari yang sebenarnya.

Kini, kepolisian diuji dengan kebiadaban kelompok bersenjata.Terpojok karena kepercayaan masyrakat tidak lagi penuh kepada penegak hukum,geram karena teroris kerap mengancam rasa aman masyarakat & BeRDUKA karena rekan mereka gugur dalam tugas (dalam penyerangan ke Mapolsek Hamparan Perak, Medan, SUMUT 22/09/10).

3 perasaan ini, yang MUNGKIN saja dirasakan oleh kepolisian saat ini.Kalau polisi mengundurkan diri dari POLRI kira-kira kepada siapa masyarakat menyampaikan pengaduan? siapa yang akan mengatur lalu lintas agar kita bisa sampai segera ketempat tujuan atau mengurai kemacetan ketika malam hari di hari raya idul fitri (ditengah hujan deras atau panas yang menyengat) ? mengurus jenazah di TKP? mengungkap krminalitas, jaringan narkotika dan terorisme? menertibkan kerusuhan antar warga atau konser?melerai sengketa di masyarakat? datang pertama di lokasi kecelakaan lalulintas?

lalu,masihkah POLRI kita banggakan? masihkah kita butuhkan? Polri milik anda,saya dan kita, INDONESIA.Untuk itu, tidakkah arif,Mencintai, mengawasi dan menjaga apa yang kita miliki, seperti halnya POLRI?
Continue Reading…

Selasa, 21 September 2010

Erianto Annas Memang Bloger sesat!!!

pertama kali menemukan Blogernas kesan pertama yang saya tangkap adalah bahwa blog ini memang sesat dan menyesatkan,anda lihat judul di atas di belakang kata "sesat" saya tambahkan tanda seru (!!!) tiga kali,ini menandakan kegeraman saya yang sangat akut terhadap blog ini.


bagaimana tidak geram,Blogernas telah dengan suksesnya menjungkirbalikan paradigma saya mengenai beberapa hal yang selama ini saya anut.dalam hal bloging misalnya saya sudah tersesatkan dengan beberapa postinganya yang kerap di lakukan bloger sebut saja postingan-postingan bernada "menggugat" seperti serial kentut banyak sentilan diserial ini tentang aktifitas komentar dan blog walking.atau postingan yang di beri label serial konyol,khusus di serial ini kalau saya pribadi mbacanya kepala saya terasa pening pengen muntah dan selanjutnya saya manggut-manggut saja sambil berkata "luar biasa".


dari segi bahasa dan pemilihan judul anda harus sepakat dengan saya,bahwa blog ini unik dan piawai dalam mempengaruhi emosi pembacanya,maka anda jangan heran jika dalam beberapa postinganya banyak sekali perdebatan di sana sini.dan yang lebih seru dan menarik adalah postingan blogernas mengenai Al-qur'an,sebelum saya mengelupas blogernas,saya sajikan dulu beberapa judul postinganya di bawah ini,pesan saya siapkan iman anda terlebih dahulu dan masih banyak lagi judul-judul postingan yang menyesatkan lainya yang saya sendiri tidak tega untuk menulisnya karena dengan menulis postingan inipun akan menyebarkan kesesatan blogernas lebih luas lagi!

sekali lagi saya sarankan kepada anda semua di larang mengunjungi blognya,terlebih lagi bagi anda yang (sekali lagi) tipis iman dan bagi anda yang terbiasa membaca sesuatu secara tekstual.sekali lagi sangat terlarang..kenapa?

karena sangat berbahaya,bayangkan anda menilai sesuatu hanya sebatas "kulit" tanpa menyentuh "isi",ketika "kulit" yang anda kira sebagai "isi" kemudian anda terburu buru menyimpulkan,saya tidak mengatakan bahwa pemahaman saya pada isi blogernas lebih mumpuni dari pada anda tapi lebih ke arah keprihatinan saya terhadap mereka yang telah "menyesatkan" blogernas,kegeraman saya kepada mereka yang seolah olah mengaku umat yang beragama dan pembela Tuhan tapi komentarnya di Blogernas tidak mencerminkan itu.saya kira masih banyak cara yang lebih beradab dari pada sesat menyesatkan,kenapa mereka tidak mengambil hikmah dan pelajaran saja dari postingan blogernas,kenapa emosi yang di kedepankan dalam berkomentar? haram hukumnya bagi saya tunduk menunduk terhadap pemahaman seseorang apa lagi tanduk menanduk dan sesat menyesatkan.

dengan tingkat pemahaman orang yang berbeda-beda mungkin yang perlu menjadi catatan bagi blogernas adalah karena judulnya yang terlalu "kontroversi",apalagi menyangkut tema-tema agama yang sangat sensitif.apakah ini strategi beliau dalam mendongkrak blognya atau ada motif lainya saya kira ini bukan wilayah saya untuk menilainya.

Erianto Anas demikian pemilik Blogernas ini,yang banernya sudah saya pajang di blog ini walaupun beliau mungkin tidak tahu bagi saya pribadi adalah layaknya dosen dalam kuliah online,guru yang tidak menggurui,dan master yang tidak melulu mengumbar istilah canggih dan sejumlah puja puji lainya yang inipun saya tidak tega untuk menuliskanya karena takutnya nanti beliau jadi sombong.


  
Continue Reading…

Minggu, 19 September 2010

Di Balik Senyum Petugas Pom Bensin

Ketika mengisi bensin, saya sering kali ngobrol dengan petugas pom bensinnya. Kebiasaan saya memang suka mengobrol dengan siapa saja. Sering kalinya saya hanya ingin menambah wawasan saja dari hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya.

Kembali ke soal perbincangan saya dengan beberapa petugas pom bensin. Hal yang beberapa bulan ini saya tanyakan ke mereka di berbagai tempat pom bensin adalah apakah mereka tidak pusing mencium bau bensin setiap hari dan kenapa mereka tidak memakai masker penutup hidung agar mengurangi uap bensin yang terhirup.

Hal tersebut saya tanyakan, karena saya saja yang berdiri sebentar sambil ngobrol, sudah langsung pusing karena menghirup bau bensin tersebut.

Mereka, yang saya tanyakan semuanya menjawab bahwa sebenarnya mereka juga pusing. Mereka merasakan dada yang sesak. Dan makin parah lagi kalau pas mereka sedang sakit, katakan saja flu, perasaan sakit di dada semakin menjadi.
Ketika saya tanyakan kenapa mereka tidak memakai masker, jawaban mereka semuanya sama yaitu karena kebijakan perusahaan.
Perusahaan melarang mereka memakai masker karena demi pelayanan ke pelanggan. Mereka diwajibkan untuk tetap tersenyum ketika melayani pelanggan. Dan sambil berkata "dimulai dari nol ya, Pak/Bu". Mereka bilang, kalau mereka pakai masker, mereka tidak bisa lagi menunjukkan senyum mereka ke para pelanggan, dan itu akan dianggap tidak sopan karena tidak menghargai pelanggan.

Saya kaget mendengar jawaban mereka. Jawaban mereka semuanya seragam. Jawaban mereka pun semakin diperkuat dengan iklan Pertamina di televisi yang mengutamakan senyum petugasnya ketika melayani pelanggan.

Ironisnya, di balik senyum yang mereka berikan, ada derita yang harus mereka tanggung dengan mencium uap bensin setiap hari yang dapat memberikan gangguan yang serius kepada kesehatan mereka, khususnya paru-paru dan otak mereka.

Saya sudah mulai merasa tidak nyaman karena tahu di balik senyuman petugas pom bensin ada derita yang harus mereka tanggung akibat menghirup uap bensin.

Sekedar tambahan catatan, untuk pom bensin yang buka 24 jam, diterapkan tiga shift kerja. Kurang lebih mereka bekerja seharinya sekitar 8-9 jam. Jumlah jam yang cukup lama untuk menghirup uap bensin terus menerus.

Continue Reading…

Selasa, 14 September 2010

Sms Lebaran (2)

Lain dulu lain sekarang, jaman sudah berubah. Silaturahmi bisa lewat SMS. Tinggal tulis satu pesan, pilih nomor teman, kerabat, saudara, KIRIM. That’s OK. Beres.
 
Suasana lebaran masih terasa sampai saat ini. Berbagai media masih menanyangkan situasi arus mudik maupun arus balik dari dan menuju ibu kota. Masih ada beberapa orang yang memakai baju koko baru dan kaum hawa yang berkerudung kesana kemari sekedar saling berkunjung dan bersilaturahmi saling bermaafan. "Beberapa orang?" Ya, saya perhatikan semakin tahun jumlah orang yang saling berkunjung semakin berkurang.

Lebaran tahun ini seperti lebaran-lebaran sebelumnya di warnai peluk cium melepas rasa rindu dan saling memaafkan antara sanak keluarga melengkapi hari kemenangan. Suara dering handphone berkali–kali terdengar dari saku mereka semua. SMS lebaran! Hampir semua anggota keluarga mengantongi yang namanya hape. Jaman sekarang siapa sih yang gak punya hape?

Meskipun sudah berkali-kali saya juga menerima dan mengirimkan SMS yang sama, tapi baru kali ini terpikirkan oleh saya. Di jaman yang semakin modern ini, apa sih yang gak mungkin? Apa sih yang susah? Bahkan silaturahmi untuk meminta maaf pun bisa lewat SMS. Lalu ke mana nilai kesakralan dari makna silaturahmi?
Continue Reading…

Senin, 13 September 2010

Sms Lebaran

Salah satu kegiatan Lebaran yang mustahil diabaikan adalah membalas dan mengirim SMS Lebaran. Luar biasa peran SMS ini dalam menyiapkan paket lebaran yang praktis, efisien dan murah.

Begitu praktisnya hingga sekian silaturahmi hanya butuh sekian pencetan. Begitu efisien karena hanya dengan mengetik satu ucapan kita bisa menduplikasi sebanyak yang kita suka. Begitu murah karena hanya cukup dengan ratusan perak, kita bisa menjangkau seseorang yang malah sedang pergi ke lain benua. ‘’Saya sedang di Roma,’’ balas seorang teman cuma dalam hitungan menit.

Tapi begitulah galibnya sebuah berkah, ia sekaligus juga menggandeng musibah. Karena begitu praktisnya sehingga yang praktis itu malah demikian menyita kegiatan kita. Karena praktis, gampanglah kita melakukannya. Karena gampang, seringlah kita melakukannya. Karena sering jadilah kita selalu melakukannya. Karena selalu, jadilah waktu kita habis untuk melakukannya.

Maka tak aneh, jika sudah jauh-jauh kita mudik, sudah capek kita muter menemui kerabat dan saudara, tapi setelah ketemu, kerjaan kita cuma memencet-mencet keypad handphone belaka. Suami mencet, anak-anak mencet, istri mencet, maka lupalah kita pada saudara jauh yang tengah berada di depan mata. Tapi ooo, saudara itu pun manusia biasa seperti kita. Jika kita ber-handphone, mereka punya juga. Jika kita mencet, mereka mencet juga. Jadi, susah-susah kita saling ketemu, akhirnya cuma saling menghabiskan waktu untuk saling pencet bagi seseorang yang jauh dan tidak sedang di depan kita. Inilah paradoks handphone itu, ia mendekatkan orang jauh dan menjauhkan orang dekat.

Continue Reading…

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Sekitar Kita | Powered by Blogger
Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com