Catatan pribadi tentang apa saja
Tampilkan postingan dengan label Panggung Sandiwara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Panggung Sandiwara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Maret 2016

Setan itu bernama Medsos


Media sosial yang kian menjamur seperti facebook,twitter,line,instagram,bbm dan masih banyak lainya maka sudah menjadi keniscayaan bahwa  media sosial  menjadi konsumsi sehari-hari bagi masyarakat banyak,alasanya bisa macam-macam.

Ada yang menggunakanya sebagai ajang curhat,menambah pertemanan dan lain sebagainya.manfaat yang bisa didapat tentunya banyak,sebanyak itu pula yang harus diwaspadai,seperti misalnya terlalu berlebihanya kita mengekspresikan kemarahan dan kebencian di media sosial
Itulah fenomena yang terjadi akhir-akhir ini,si A menyindir B yang tersinggung si C ,si D ikut-ikutan baper dan mulai membuat serangan balasan ke si E ,melihat A B C D E  setan pun tertawa penuh kemenangan,apakah setan berhenti sampai disitu? tentunya tidak,maka jebakan setan yang lainpun segera dipasang,mari kita lihat


Kali ini jebakan setan dibungkus dengan baju dakwah dan ibadah,ya dakwah manis sekali mendengarnya bukan? melalui tulisan-tulisan dimedia sosial yang katanya ingin mengajak kebaikan,tapi terkadang kerap kita terjebak pada perangkap sombong karena kita sudah merasa alim ,
Continue Reading…

Kamis, 28 Oktober 2010

Mulutmu Harimaumu Pak Ketua,, !

Bukan sok latah ikut2an mengecam pernyataan pak ketua DPR kita satu ini,tapi kayaknya harus di latahi bahkan kalau perlu di ekspos di tv biar kapok tuh..

dari ulah marzuki ali yang asal “nyeplos” ngomong pindah saja kedaratan kalau tidak ingin kena resiko tsunami,coba bilang ama warga jakarta yang kena banjir mulu,pindah saja kedesa apa mereka mau,atau gini saja khawatir kena gempa di daratan jgn tinggal didaratan tinggal aja dipegunungan, klo pegunungan khawatir meletus tinggal aja di lembah2, klo lembah khawatir kebakaran tinggal aja di pesisir, klo khawatir pesisir kebanjiran tinggal aja di pantai.... dstnya. khawatir terus kapan enaknya pak ketua?

Apa jadinya kalau pejabat sekelas Marzuki Alie tidak bisa menunjukkan rasa empatinya kepada anak negeri Sumbar yang sedang berduka karena kehilangan sanak saudara yang menjadi korban tsunami di Mentawai, selengkapnya begini pernyataanya pak ketua kita satu ini saya kutip dari sini

"Mentawai kan jauh. Itu konsekuensi kita tinggal di pulaulah," kata Marzuki di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (27/10/2010). "Kalau tahu berisiko pindah sajalah," imbuhnya. 
"Kalau rentan dengan tsunami dicarikanlah tempat. Banyak kok di daratan," sambungnya. 

Memindahkan orang, tidak sama dg mencabut pohon yg sudah berakar dari tempat tumbuhnya. Kultur budaya dan hidup di pantai tidak bisa disamakan dengan di daratan/pegunungan, begitu pula sebaliknya pak ketua.. 
Begini saja pak ketua,dari pada pak ketua koment sana-sini yang gak jelas dan menuai hujan kritik bahkan dari dalam partai anda sendiri mengkritiknya,ada baiknya saya ajari bapak membuat pernyataan yang sedikit elegant,kira-kira begini pak ketua 

Negara kita ini terletak di titik yang rawan bencana seperti gempa, tsunami, gunung berapi, topan, dll. Karena itu saya himbau kepada rakyat Indonesia agar selalu waspada dan senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang pengurangan risiko bencana, bahkan sejak usia dini......

Coba pak ketua,bandingkan pernyataan bapak dengan saya enakan mana hayoo?? :P
 
Continue Reading…

Selasa, 25 Mei 2010

Terkait Whistle Blower

Inilah yang pernah saya khawatirkan akan terjadi terhadap Susno Duaji (SD) ketika dia mulai meniup peluitnya mengenai kasus-kasus korupsi yang membawa institusi Polri ke publik. Terlepas dari apakah perbuatan SD itu heroik atau tidak, yang sejak awal saya kemukakan adalah "backlash" (pukulan balik) yang akan diterima dari lembaganya, karena SD akan dianggap sebagai orang yang tidak mampu menjaga loyalitas, martabat, dan kehormatan corp. 

Di manapun di dunia ini, masalah yang satu ini sangat kontroversial dan dilematis. Kontroversial, karena ia pasti menciptakan pro dan kontra baik di dalam korps maupun di ruang publik. bagi yang pro, sikap SD memang sudah semestinya dilakukan karena kebenaran bagaimanapun mesti diungkap, no matter what! Bagi yang kontra, sikap SD adalah bertentangan dengan loyalitas dan kehormatan lembaga yang harus dijaga, kalau perlu dengan segala cara. Kebenaran, kalau toh itu memang ada, harus dilihat dalam konteks yang lebih luas, misalnya dampaknya pengungkapan tersebut terhadap moral para anggota Polri.

Perkara meniup peluit macam SD ini juga dilematis. Di satu pihak, keinginan menumpas kejahatan korupsi adalah komitmen seluruh anak bangsa dan juga Pemerintah. Oleh sebab itu apa yang dilakukan SD adalah momentum yang barangkali tak akan terjadi lagi dan harus dimanfaatkan demi kemaslahatan bangsa. Di pihak lain, jika proses pemberantasan ini tidak terukur, maka akan membuat lembaga Polri sebagai sasaran tembak utama yang implikasinya akan bersifat nasional serta dapat memperlemah lembaga penegak hukum secara keseluruhan.

Bisa dibayangkan manakala Polri kehilangan otoritas moralnya secara nasional, maka seluruh proses penegakan hukum plus para penegak hukum Polri akan menjadi bulan-bulanan. Tak peduli apakah mereka Polisi baik atau setengah baik atau tidak baik, karena telah terjadi demoralisasi secara institusional, maka penegakan hukum menjadi goyah. Hasilnya adalah kondisi anarkis yang hanya membuat senang musuh-musuh bangsa ini. Karena itulah sejak awal saya sangat menyayangkan langkah "bombastis" yang ditempuh SD, kendati saya juga tak akan bisa dan tak mungkin mencegah. 

layaknya sebuah perumpamaan Jawa "kriwikan dadi grojogan" atau aliran air yang kecil, menjadi air terjun. dengan kata lain, masalah yang mula-mula bisa diselesaikan dengan resolusi konflik internal Polri, lantas out of control karena terbuka blak. Publik yang sedang marah dengan berbagai kasus korupsi dan inkompetensi para penegak hukum (bukan cuma Polri tetapi juga Kejagung, MA, Kehakiman, dsb) tentu akan makin marak kemarahannya dengan pelbagai issu yang dibuka oleh SD. Ketidak mampuan kepemimpinan Polri dan Pemerintah untuk mengelola persoalan, pada akhirnya mengarah kepada cara klasik untuk menghentikan masalah sekali pukul, yaitu jusrus membunuh seekor tikus dengan membakar lumbung! 

Saya melihat dengan menjadikan SD sebagi tersangka dalam dua kasus (Arwana dan Pemilukada Jabar) merupakan langkah kepepet dari Polri untuk menyelamatkan lembaga dari kerusakan lebih lanjut. SD lantas menjadi ikon dari mimpi paling buruk seluruh lembaga ini: keterpurukan martabat dan kehormatan korps, serta potensi ketidak loyalan yang akan menghancurkan kekuatan moral korps. 

Jika Pemerintah dan khususnya Presiden (yang notabene adalah atasan langsung Kapolri) diam saja dengan alasan menjaga netralitas, maka saya yakin sikap Polri akan semakin vulgar dan cenderung habis-habisan! Ibaratnya, Polri berada dalam kondisi "to be or not to be" ketika SD ternyata makin "ngeyel", tak mau berkompromi, menantang dan, ini yang repot, semakin mendapat banyak dukungan dari publik yang makin marah! Irasionalitas pembelaan korps akan bertabrakan langsung dengan irasionalitas publik yang marah dan haus akan "hasil" pemberantasan korupsi. 

Saya bisa saja salah. Bisa saja SD makin moncer dan Polri bisa ditundukkan publik. Atau Polri akan membungkam SD, lalu semua menjadi tenang kembali. Kalu itu skenarionya maka masalah ini akan berakhir manis. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kalau dari "kriwikan" malah jadi "grojogan" lalu makin besar menjadi air bah yang akan memporak-porandakan Republik ini? 

Wallahu a'lam.

source : 
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/05/25/145064/16/1/Susno-Jadi-Tersangka-Kasus-Dana-Pemilu-Kada-Jabar
http://www.detiknews.com/read/2010/05/25/225233/1364087/10/pengacara-susno-nilai-polri-rekayasa-kasus-hukum-susno?991101605
http://suar.okezone.com/read/2010/03/24/59/315703/susno-pahlawan-kesiangan

 
Continue Reading…

Jumat, 14 Mei 2010

Polri Lawan Teroris Jago, Lawan Markus Loyo


Dahsyat! Barangkali itu semua ucapan yang pantas diberikan kepada Polri yang Tim Densus 88 nya berhasil membekuk sebegitu banyak tersangka teroris dalam seminggu. Bahkan hari ini, menurut siaran pers Kapolri, 5 teroris ditembak mati dan satu ditangkap hidup-hidup, di Cikampek dan Cawang. 

Saya berharap, semoga publik tidak mengaitkan penggrebekan yang satu ini dengan rame-rame kabar ditahannya Susno Duaji (SD) setelah diperiksa di Kantor Bareskrim kemarin. Sepintas, memang kecepatan dan kelihaian Polri dalam melakukan penggrebekan dan penangkapan para tersangka teroris harus diacungi jempol. Sayangnya, dalam situasi seperti sekarang, ada saja orang yang masih usil meragukan kinerja Polri, khususnya Densus 88 tersebut. Malah ada juga yang komentar, bahwa kalau tersangka teroris dapat ditangkap segitu banyak dalam seminggu saja, alangkah banyak jumlah teroris di negeri ini. Jangan-jangan memang teroris dan jejaringnya di seluruh Nusantara ini sudah berbilang ribuan, bukan hanya ratusan orang?

Continue Reading…

Rabu, 12 Mei 2010

Saga Pak Susno ,part 2

Sebenarnya, kasihan juga Pak Susno Duaji (SD) ini, andainya beliau bukan seorang jenderal polisi berbintang tiga. Orang sehebat beliau ternyata begitu mudahnya terkecoh oleh mainan politik yang bernama "Satgas Anti Mafia Hukum."(selanjutnya kita sebut Sargas saja). Bukankah semua orang yang rada berpikir sudah bicara dan memperingatkan, bahwa barang ini cuma mainan untuk mengecoh masyarakat agar mereka tidak lagi mempersoalkan follow up kasus Centurygate? Kalau soal kemampuan dan efektifitasnya memberantas korupsi dan mafia hukum, anak belum sekolah pun pasti sudah tahu, bahwa Satgas gak punya gigi. Ia bukan lembaga penegak hukum. Ia juga tidak punya kapasitas untuk melakukan peyidikan, penangkapan, maupun penahanan. Apalagi membantu seseorang yang sedang kena masalah hukum, seperti Pak SD. Satgas, tak lebih adalah semacam decoy atau alat untuk mengalihkan perhatian publik dari urusan besar dan maha serius dan punya implikasi politik luas: Centurygate dan sebelumnya tentu adalah Cicak vs Buaya.

Continue Reading…

Minggu, 09 Mei 2010

Ketika Celebs Nyalon


mengenai judul di atas "nyalon" tidak sama artinya dengan pergi ke salon untuk perawatan diri yah..,nyalon ya nyalon ato mencalonkan diri..maaf saya tidak bisa membuat judul yang baik  dan benar apa lagi seo friendly

Bukannya mau ikut ngurus rumah tangga atau pribadi orang, cuma karena tertarik mengikuti para celebs yang semakin banyak menghiasi wacana dan kegiatan politik di negeri ini. Terus terang saja, secara prinsip, saya sama sekali tak punya keberatan apapun dengan membludagnya para celebs dalam parpol, sebagai wakil rakyat seperti Rachel Maryam calon eksekutif daerah seperti Jupe, Inul, dst, eksekutif daerah (Dede Yusuf, Rano Karno), dll. Ini pertanda positif bahwa demokrasi benar-benar membuka pintu bagi mereka yang punya keinginan dan kemampuan berkiprah dalam politik. 



Continue Reading…

Senin, 12 April 2010

Susno Ditangkap di Toliet Bandara

Berita penangkapan Susno Duaji (SD) di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, sore ini pasti akan menjadi berita besar dan kegaduhan yang akan merata di seluruh penjuru tanah air. media massa tentu akan menikmati "field day" dengan perkembangan terbaru ini. Entah apa pula nanti yang akan dispekulasikan oleh mereka, yang jelas "bahan" spekulasi itu sudah sangat tersedia: 

1) SD ditangkap tanpa izin/surat penangkapan, 

2) SD dianggap tidak disiplin karena akan pergi ke luar negeri tanpa izin, 

3) SD merasa memiliki hak untuk melakukan cek kesehatannya di mana saja dan tidak ada larangan untuk ke Singapura, 

4) Polri tidak memberitahu pengacara SD lebih dahulu. dan sebagainya dan seterusnya.

Continue Reading…

Kamis, 18 Maret 2010

Saga Pak Susno

Saga adalah semacam hikayat seseorang yang penuh lika-liku yang bisa berakhir happy atau unhappy atau tragis.saya mencoba mengikuti saga mantan Bareskrim Jendral (bintang tiga) Susno Duaji (SD).Ya karena memang Pak SD sedang memerankan tokoh baik setelah beberapa waktu lalu sempat dicap rame-rame sebagai dalang drama "cicak vs buaya". Dengan "asornya" kubu buaya, maka sang sutradara sekarang harus dijadikan sesajen di pelataran politik intern Polri. Namun, Pak SD tampaknya tidak tertarik untuk "just fading away in the background" alias lenyap di latar belakang, tetapi beliau maunya melakukan perlawanan. Untuk itu sekarang peran yang dimainkan oleh Pak SD bertukar: menjadi seorang tokoh super jujur yang dizolimi oleh para boss. Karenanya, kisah yang dibuat sekarang berbeda total: Dari peran buaya sekarang menjadi peran sang pendekar pembela kebenaran.
Continue Reading…

Sabtu, 25 Juli 2009

Hanya ingin berpendapat mengenai Pilpres

Seperti kita ketahui bersama KPU telah mengumumkan hasil Rekapitulasi  Pilpres dan hasilnya kita semua sudah mengetahui bersama.Dengan segala kekuranganya KPU telah menyelenggarakan Pilpres dan Pileg berjalan dengan lancar,aman dan tanpa gangguan yang berarti,ini yang harus kita Syukuri.
belajar dari rakyat

dalam menentukan pandangan politiknya masyarakat kita jauh lebih maju di bandingkan dengan periode periode sebelumnya,justru para elitelah yang menurut saya kurang memberikan pembelajaran politik yang baik.Harusnya mereka dapat menyikapi
kekalahan dengan " legowo",ingat janji waktu kampanye dulu,mau menerima kekalahan dan menghargai pemenang.Tidak hadir dalam rapat pleno KPU, atau tidak mau menandatangani hasil Rekapitulasi,toh ini juga tidak berpengaruh pada hasil.kita "berprasangka baik" saja pada mereka,mungkin ada kegiatan lain sehingga tidak bisa hadir dalam acara yang diselenggarakan KPU
Bagi yang menang juga harus "Legowo",legowo disini  bisa kita artikan tidak boleh sombong atas hasil kemenanganya,toh ini adalah amanat dari rakyat.walaupun pilihan saya tidak menang ,kita beri kesempatan 5 tahun mendatang,karena yang saya tahu UU nya mengharuskan maksimal 2 periode masa jabatan presiden .
harapan 
tidak ada alasan bagi saya untuk tidak menerima hasil pemilu,bahkan golput sekalianpun saya harus menghargai siapa pemenang dari pilpres ini.
akhirnya saya sebagai pribadi mengharapkan untuk Pemerintah / KPU kedepan "Pelaksanaan pemilu harus menjamin setiap warga dapat memilih atau tidak memilih,tidak ada lagi kesemrawutan soal DPT, walaupun memang sulit persoalan DPT ini karena menyangkut manusia.untuk para elite,bersikaplah"kenegarawan",yang kita lihat sekarang hanyalah sikap "politisi"



ket.gmbr kompas.com,pewarta indonesia.com


Continue Reading…

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.
Check Page Rank
Copyright © Sekitar Kita | Powered by Blogger
Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com