Anak-anak jaman sekarang, kecil-kecil sudah mulai berpacaran. Anak tetangga saya
yang masih duduk di bangku SMP sekaligus nyantri di pondok pesantren,
merasa iri, melihat hampir seluruh temannya sudah berpacaran.
Libur
lebaran kali ini si anak itu pulang dari Pondok Pesantren. Memang, orangtuanya
sengaja memasukkan putri pertamanya itu ke sekolah lanjutan sekaligus
mendaftarkannya ke pondok pesantren.Jarak rumah dan pesantren cukup
jauh, sehingga anak itu hanya bisa pulang 4-5 kali saja dalam setahun.
Berat
memang, melepas anak yang masih belia untuk hidup jauh dari orangtuanya Namun, pertimbangan orang tua itu cukup kuat. Ia ingin anaknya
lebih fokus belajar tanpa khawatir pergaulan yang terlalu bebas. Di
pesantren, dengan jadwal belajar dan pengawasan yang ketat, membuat anaknyalebih disiplin. dan sejauh yang saya tahu hampir tiga tahun anak itu menjalani sekolah dan kegiatan rutin di pondok pesantren, tidak ada
hal yang menghawatirkan perkembangan jiwanya.
Libur lebaran kemarin, orang tuanya sempat kaget dengan pernyataannya, "Pak, saya belum punya pacar..."
Seperti
biasanya sehabis sholat ied keluarga itu melakukan kegiatan rutin
bersilaturahmi ke orang tua, saudara dan tetangga lainya,seluruh anggota keluarga termasuk anak itu di ajak berkelilinh mohon maaf kepada khalayak.Waktu telah beranjak sore anak itu dijemput
teman-teman SDnya dulu untuk diajak bersilaturahmi ke teman dan gurunya
dulu. Sebenarnya orang tuanya melarang kepergiannya yang akan pergi bersama
teman-temannya untuk bersilaturrahim, karena dalam hati orang tua itu ada
perasaan tidak enak saja. Namun karena mungkin kasihan, ia pun mengijinkan anak itu untuk pergi dengan catatan jangan pulang terlalu malam.
Namun
ternyata, anak itu baru pulang ke rumah pukul sepuluh malam! Dengan kesal
orang tuanya menanyakan kenapa bisa pulang sampai larut malam melewati jam yang
telah ditentukan.
Jawabnya simpel saja, "saya terjebak dengan prilaku
teman-teman." Dengan terbata-bata dia menceritakan kondisi
temannya-temannya di SD dulu kini telah jauh berubah, meski baru duduk
di bangku SMP saja sudah pacaran. Pacarannya pun sudah kelewat batas;
berduaan di tempat yang gelap dan ada juga yang naik motor kebut-kebutan
lagi. Dan dia mengatakan teman-temannya di SD semua telah mempunyai
pacar, dan merasa bangga bila mempunyai pacar. Dan dia sendirilah yang
belum mempunyai pacar karena terbelenggu oleh rutinas kegiatan di
sekolah dan Pondok Pesantren.
Setelah mendengar cerita anak itu,orang tuanya berangsur-angsur marahnya jadi hilang berubah menjadi
kebanggaaan atas keputusanya dulu memasukkan anaknya di Pondok Pesantren.
"..Inilah buah yang telah dapat kami petik setelah hampir tiga tahun
menunggu jawaban,
andaikan anakku tidak saya pondokkan tentu akan
mengalami hal yang sama yaitu terjebak oleh pergaulan bebas yang akan
merusak masa depan mereka,saya merasa
bangga dan senang. Nanti setelah tiba waktunya tentu tidak ada larangan.
Yang terpenting sekarang adalah belajar yang giat untuk meraih
cita-cita.."
begitu kata orang tua itu mengakhiri ceritanya pada saya,dan saya manggut-manggut saja :)
8 Comments:
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
@ mundo..ok,*manggut-manggut jg :)
Sepertinya dirimu juga perlu d kirim ke pesantren..! ho ho ho..!
*Alhamdulillah, akhirnya ada jg peluang BW..!
Salam Blogger