Catatan pribadi tentang apa saja

Selasa, 26 Oktober 2010

KAU BALUT LUKA DENGAN JILBABMU


Ya Allah aku tak kuasa melihatnya, wajah putihnya berubah merah. Bagai kepiting rebus lunak siap santap. Karena air mata yang tertahan di pelupuk mata. Ingin aku menenggelamkannya ke dadaku agar segala beban tersandar, agar segala kerinduan tercurahkan. Agar dia tahu ada aku yang selalu ada untuknya ada aku yang akan menghapus air matanya.
“kenapa minta pulang?”
“capek, disini dari sore. lagian kalo pulangnya telat entar kena marah sama bunda”
Nesya berlalu menuju parkiran, kutarik tangannya, dia menoleh. Aku melihat air matanya terjatuh membasahi pipi, dagu dan jilbab yang dikenakannya.

“secapek apa sih? Sampai Nesya nangis kaya gini?
“siapa yang nangis. Tadi kena debu tahu!”
“ya udah kalo nggak mau ngaku. Kalo ntar dada kamu meledak gak sah minta tolong ya!”
“yyyeeeeeeeeee,,,,,,,,,,,,,,,,,, bom waktu kali!”

Ku stater motorku meninggalkan cafe faforit kita. Berjalan ke arah selatan menyusuri jalan penuh kenangan . kami bisu diantara lalu lalang kendaraan. Sebenarnya banyak pertanyaan di benakku. Apa yang terjadi pada Nesya? Kulihat traffic lamp berwarna merah. Aku mengerem motorku tepat di tangah-tengah pengemudi kendaraan yang lain.

“Kita belok kiri aja.”
“Belok kiri??? Kita kan mau pulang. Kalo mau belok kiri ngapain tadi kita berhenti?”
“Halooo Rama yang super cute. Yang berhenti kamu kaliiiii bukan kita! Lagian supirnya siapa lagi. Aku belon pengin pulang. Masih pengin di sini ngademin ati”
“Ya udah pulang aja sana! Masukin frezer”

Aku jadi kaya orang utan yang baru masuk kota melihat traffic lamp, buta huruf lagi. Sudah jelas ada tulisan KIRI JALAN TERUS la ini belok kiri pake acara berhenti nungguin trafic lamp berubah kuning . rasa-rasanya semua pengendara di sekitarku menertawaiku tanpa ampun. Aku masih menyusuri jalanan kota yang ramai. Ya tentunya masih ada sikecil Nesya di belakangku. Kenapa aku menyebutnya kecil??? Ya..............memang dia kecil. Bayangkan. Tinggi badan 148cm di umur 19th dengan berat badan 40kg. Kadang aku menyebutnya kurcaci. Sudah barang tentu dia marah. Tapi dia nggak akan marah disebut ‘cah cilik’. Dia bilang itu fakta. Bagiku Nesya adalah sahabat,adik,sodara bahkan kadang-kadang jadi musuh (kalo lagi berantem). Dari orok kita sudah bareng. Nesya lahir saat aku mulai balajar merangkak, kata ibu usiaku 2bulan. Dari belajar berjalan, dari TK sampai SMP bahkan di TPQ kita selalu bersama.

Kata Bapak Ibu guru kami, di sekolah maupun di TPQ aku jauh lebih pandai dari Nesya. Hal itu memang terbukti dari hasil rapor kami. Tapi nesya hebat dia selalu berusaha untuk jadi yang lebih unggul dari aku.walupun usahanya bisa dibilang sia-sia. Setiap penerimaan rapor kami selalu punya perjanjian. Siapapun yang lebih unggul dia berhak mendapatkan coklat merek terlezat dari yang tertinggal. Tentu saja aku yang selalu mendapatkan coklat tersebut.tapi aku tidak pernah menikmatinyya sendiri, aku selalu membaginya sama nesya.walaupun aku tidak membaginnya Nesya selalu memintanya secara paksa.
Kita masih melenggang diatas jalan raya. Melewati sebuah bangunan klise. Dulu aku sama Nesya belajar bersama selama enam tahundengan seragam merah putih kebanggaan kami. 

“Jadi inget Rama dulu, masih ingusan”
“Sekarang sya???”
“Sekarang upilan. Tu jorok banget!”
“Hihhh,,,,,,,,,,,,,,,,ngatain orang. Dasar!”
“Hahahahahahahaha,,,,,,,,,,,”

Anganku terbang bersama gelak tawa Nesya. Andai kita tidak terpisah saat SMA. Aku pasti bisa ngemong dia dengan jarak yang sangat dekat dan intensif. Tapi apa boleh buat, aku cuma bisa memandang kesemrawutan nesya dengan jarak jauh. Nesya yang cuek, Nesya yang nakal. Sebenernya kita terpisah bukan karena sekolah kita berbeda tapi karena sudah ada yang menjaga nesya. Aku cuma mundur teratur. Tapi jangan salah, Nesya sekarang adalah manusia reingkarnasi dengan perubahan 180 . Biar tetep cerewet tetapi selalu mengontrol tutur kata. Kemanapun pergi jilbab selalu jadi tutup kepala. Sekarang waktu menyatukan kita. Ya walaupun sama-sama sibuk kuliah tapi selalu nyempetin ketemu, biasanya sih malam minggu kaya gini. Sekarang aku akan menjaga nesyaku, menjaga sobat kecilku. Syukur-syukur dia memang amanat dari Tuhanku untuk hidupku.

Aku marasakan pundakku mendapatkan sebuah beban, membuyarkan lamunan yang telah jauh menggantung bersama angin. Aku mencoba memeriksanya lewat kaca sepionku, sepertinya aku menemukan sesuatu disana.

“Ram,,,,,,,,,,,,,aku bolehkan pinjem pundakmu?”
Suara nesya mengagetkanku bersama dengan teriakan perempuan didepanku.
“Awassssssssssssssssssssssssssssssss,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Dan,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,brakkkkk aku menabrak becak dengan penumpang perempuan paruh baya.
“Rama hati-hati dong.” Lanjut nesya

Kuhentikan motorku. Alhamdulillah tidak ada korban. Baik luka ringan, berat maupun korban jiwa. Cuma dadaku sekarang dagdigdug kenceng banget.melebihi nara pidana yang akan dieksekusi mati,. Melebihi pengantin pria yang akan mengikrarkan ijab kabul. Bukan karena abang becak yang ngomel-ngomel memarahiku. Tapi karena nesya, nesya menyandarkan diri sepenuhnya kepudakku, eeeee gak ding Cuma kening doang.
Kita masih diam memandangi keramaian lalu lalang orang yang bermalam mingguan. Kata Jamal mirdad “malam minggu malam yang panjang, malam yang asik buat pacaran” tapi itu tidak berlaku buat aku. Malam minggu kaya gini aku harus nemenin nesya yang manyun, menekuk wajah seperti burung hantu. Diketawain orang ditengah lampu merah, kena marah sama abang becak gara-gara naik motor meleng. Nesya turun dari motorku. Duduk disebuah bangku kecil dibawah pohon beringin.

“Jangan disitu entar dikira anak tuyul ilang. Lagian tu rebutan O2 sama om pohon, entar pingsan repot deh bawa pulangnya.”
“Ihhh ngasal banget sih. Biarinlah mati juga gak papa besok-besok malah mo bawa tambang kesini”
“Yeeeee,,,,,,inget kamu punya utang ma aku Rp10000 makan bakso kemarin. Bayar dulu baru mati”
“Ya Allah pelit banget sih. Duit Rp10000 ja di ributin”
“Bukan pelit. Justru aku sayang kamu karena duit Rp10000 itu bisa menghambat perjalanan kamu di akherat”
“Ram kalo kamu marasakan kerinduan diatas kebencian apa yang kamu lakukan?”
“Mang kangen sama sapa sih???”
“Seseorang yang dulu mengaku kalo aku segalanya.tapi sayang tidak ada yang abadi di dunia ini”
“Ihhh ngomong yang jelas dong!!! Mang siapa sih???”
“Aduhhhhhhhhh.”
“kenapa Sya?”
“Pengin pipis. Ketoilet dulu ya. Rama tunggu sini, nitip tas”

Nesya ngeloyor pergi sambil melempar tasnya. Aku Cuma bisa geleng-geleng kepala ngeliat tingkah nesya yang aneh. Susah ditebak. Memandang tas nesya seperti ada magnet yang menuntun tanganku untuk membukanya. Entah kenapa aku bener-bener penasaran ingin mengetahui isi tasnya. Eitsssss tunggu dulu aku bukan klepto lo. Aku Cuma pengin tahu aja, benda-benda penghuni tas nesya itu apa aja sih? Dengan seribu keberanian kubuka resleting tasnya. Mungkin aku nekad, tapi biarlah. Toh nyatanya rasa penasaranku mengalahkan segala rasa didalam diriku. Aku menemukan minyak angin dengan botol kecil, imut. Aku sempat terkekeh mendapatinya, mungkin orang-orang pikir aku gila, tapi biarlah yang apenting aku puas. Tu anak kaya nenek-nenek pikirku. Aku melihat dompet panjang dengan warna coklat muda bergambar tedy bear, dengan tangan gemetar aku raih benda itu. Sekali lagi aku tidak ada minat untuk mencuri, nyolong atau apalah. Aku sendiri masih heran kenapa rasa penasaranku sebegini besarnya? Kubuka dompet itu perlahan, Subhanaallah aku benar-benar tidak tertarik dengan sejumlah uang yang ada di dompet nesya, kartu ATM? Apa lagi KTP? Gak penting. Tapi aku benar-benar terkejut mendapati sebuah foto dengan wajah ceria nesya dengan seorang cowok.

“Rama ko’ gitu si?!?!?” tiba-tiba nesya datang. Marah. Aku jadi celungukan. Aku bener-bener bodoh diantara orang bodoh. Aku kayak maling yang aketangkap sama tuan rumah.
“Maf sya a,,,,,,,,,,a,,,,,,,,,aku tidak,,,,,,,,,,,”
“Aku ngarti, kamu nggak mungkin nyolong!!!!! Tapi aku gak suka kamu kaya gitu!!! Melanggar privasi tauuu”
“ Iya sya maaaf,,,,,,,,,,tapi jangan ujan lokal gitu dong”
“Mau tak banjiri sekalian!!!” 

kami berdua terdiam. Aku nggak perduli nesya marah atau nganggep aku kurang ajar. Yang merajai pikiranku sekarang adalah foto di dompet itu. Aku kenal cowok itu. Seperti halnya keberanianku mengobrak-abrik tas nesya. Aku pun harus punya keberanian untuk menanyakan hal ini. 

“Cowok itu siapa sya?”
“Dia yang dulu mengaku aku adalah segalanya. Tapi tidak ada yang abadi ram”
“jadi ini yang bikin nesya nangis, minta pulang dari kafe?”
“cewek mana yang tahan ngeliat orang yang pernah menyakitinya jalan sama cewek lain. Sama sepupu kamu. Sedang dalam segala perubahanku aku masih selalu memohon pada Allah, agar dia kembali lagi sama aku.”
“Kamu berubah karena dia, bukan karena Allah?”
“Entahlah. Aku jadikan jilbab ini sebagai benteng bukan tameng (kedok). Dalam keadaan sepertiku setan mudah mempengaruhi, jadi aku harus punya pegangan yang kokoh. Agama. Tapi sekarang semuanya berakhir. Aku kecewa karena lukaku sendiri.”

“Setetes embun untuk hati yang gersang.
Semoga”

5 komentar:

  1. nice story kawan,,,,Like this..
    "setetes embun untuk hati yang gersang"

    BalasHapus
  2. makasih kawan,
    ini postinganya temenku..
    :)

    BalasHapus
  3. storynya bagus.....

    BalasHapus
  4. I wish I could understand the language better.

    BalasHapus

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Sekitar Kita | Powered by Blogger
Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com