Catatan pribadi tentang apa saja

Minggu, 31 Oktober 2010

Hot Spotan di Pekalongan untuk siapa?

Oleh : Blog'de
 
Kalau jalan-jalan ke kota-kota atau Kabupaten hal yang menarik dan pertama saya cari adalah alun-alunya,di alun-alun ini biasanya saya duduk santai sambil menikmati segala yang ada,biasanya sebuah alun-alun kota/kab adalah representasi dari kota/kab itu sendiri,kita bisa menemukan kekhasan daerah tersebut dari alun-alunya
 
Kali ini saya berada di Kota batik Pekalongan,melihat tampilan alun-alun kota Pekalongan saat ini sungguh menyegarkan mata. Lapak-lapak pedagang kaki lima dan kantong-kantong parkir yang dulu tampak "mengotori" kawasan alun-alun, kini telah tertata rapi di seputaran lapangan. Di tengah lapangan, hanya ada hamparan rumput hijau yang terpotong rapi. Pemerintah kota tampaknya serius menangani penanda kota ini.
 
Saat saya menghidupkan perangkat wi-fi di laptop, tampak indikator jaringan hotspot berkedip-kedip. Ada empat sinyal wi-fi gratis di alun-alun Pekalongan, dengan kecepatan akses yang lumayan. Namun, keasyikan berselancar agak terganggu dengan kehadiran seseorang tak dikenal yang mendadak menghampiri dan mengamati gerak-gerik saya.

Saya pun melihat sekeliling, dan ternyata, hanya saya sendirian yang membawa laptop. Tidak ada gerombolan muda-mudi yang kerap saya temui di tempat-tempat yang menyediakan hot spot gratisan. Khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan, saya pun segera mengemasi barang-barang, dan beranjak ke mal yang berada tak jauh dari alun-alun.

Pemerintah memang telah menata ulang alun-alun serta memberikan fasilitas hotspot gratis. Namun, rupanya, fasilitas itu belum menarik minat para "hotspoters" Pekalongan. Buktinya, tak banyak pengunjung yang memanfaatkan jaringan internet gratis ini. Mereka lebih banyak terlihat bergerombol di kafe-kafe yang menyediakan fasilitas serupa.

Padahal, bila mau, para pengguna laptop dapat berselancar dengan sinyal wi-fi tak berbayar, sembari menikmati suasana serta sajian makanan dan minuman di seputaran alun-alun kota. Namun, ketidaknyamanan menjadi alasan para hostpoters ini enggan berlama-lama di rerumputan hijau alun-alun yang menggoda itu.

Ketiadaan petugas keamanan yang berkeliling di sekitar alun-alun menjadi salah satu alasan, mengapa kawasan ini "terlihat" tidak aman. Peran petugas kemanan ini penting, untuk memberikan kepastian kepada pengunjung bahwa kawasan ini benar-benar dijaga oleh pihak yang berwenang.

Selain petugas keamanan, rasa nyaman bisa dibentuk dengan "pengamanan bersama". Artinya, para pengunjung secara bersama-sama menjaga keamanan mereka sendiri. Caranya, tentu saja, dengan saling berinteraksi. Bila komunikasi telah terjalin, rasa saling percaya akan muncul. Tidak akan ada rasa curiga kepada orang di sekitar.

Untuk menumbuhkan ini, dibutuhkan waktu tidak sedikit. Diperlukan pula kontribusi pemerintah untuk menyediakan infrastruktur yang memadai agar menarik semakin banyak orang berlama-lama menghabiskan waktu di alun-alun.

Saat ini, memang, kawasan itu telah tertata rapi. Rerumputan hijau itu pun cukup nyaman untuk disinggahi. Namun, belum ada bangku-bangku taman di bawah rindangnya beringin besar di sudut dan pinggir lapangan. Di siang yang terik, kehadiran bangku di bawah rerimbunan pohon, pasti akan sangat menarik.

Bangku-bangku taman, juga lebih berguna bagi pengunjung ketimbang videotron raksasa di sisi timur lapangan yang hampir sepanjang hari menyiarkan iklan dari sponsor.

Pasokan listrik juga menjadi hal penting bagi para pemburu hotspot. Sebab, daya tahan baterai laptop seringkali tak maksimal. Soal ini, Pemkot dapat belajar dari Pemkab Batang. Di alun-alun kota tetangga itu, disediakan ratusan stop kontak beraliran listrik bagi pedagang dan pengunjung. Pedagang yang memanfaatkan listrik itu dimintai retribusi Rp 1.000 perhari. Sementara, para pengunjung yang mengecas laptopnya tak dikenai biaya.

Bila memang pemerintah serius mengolah kawasan alun-alun kota, maka hal-hal "perinthilan" macam ini pun seharusnya menjadi perhatian. Jadi, bukan hanya menyediakan fasilitas dan lantas mengabaikan efektivitas penggunaannya. Evaluasi harus terus dikalukan, agar proyek berbiaya mahal itu tak hanya menjadi sekadar "proyek mercusuar".
*foto dr sini 

11 komentar:

  1. salam sahabat
    jadi tahu di pekalongan seputar apa saja yang hot hehehe.good luck yach

    BalasHapus
  2. mksh dhana..
    maen dong ke pekalongan :D

    BalasHapus
  3. betul sekali mas Aan Perintah atau institusi terkait harus belajar juga mengoptimalkan fasilitas yg ada tidak hanya sekedar menyediakan saja.

    BalasHapus
  4. klo sy sendiri malah blm nyoba yang hotspotan di alun2 pklangon ini,ini artikel sumbangan mas :D

    selamat siang n salam hangat,

    BalasHapus
  5. terimakasih smua komentarnya n lam knal ,ini artikel perdanaku di blognya aan

    :)

    BalasHapus
  6. Salam kenal.

    Kapan2 kalo maen ke pekalongan aku internetan di alun2 deh...hehehe

    BalasHapus
  7. hmm postingannya bikin saya pengen ke pekalongan deh.. dulu papa pernah bawain batik dari sana dan baguuuus banget bahannya...

    BalasHapus
  8. Wah siip,aku juga suka nongkrong di kafe meong yang ada hotspotnya,..

    BalasHapus
  9. waduh...gw seumur hidup gak pernah kena palak tuh bung...mungkin tampang gw lebih sangar dari premannya kali yeeee....

    BalasHapus
  10. Sayang banget klo fasilitas itu ga dimanfaatkan dengan baik.. mubazir..
    Di alun-alun surabaya juga ada hot spotnya, tp disana rame banget..org2 pada memanfaatkan fasilitas itu dengan baik.:)

    BalasHapus
  11. seharusnya ditaruh ditempat yg lebih berguna tuh . . . hos spotnya :)

    BalasHapus

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Sekitar Kita | Powered by Blogger
Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com