Bosan

Ketika bosan atas suatu keadaan, nikmati saja
Ketika kecewa atas suatu kenyataan, nikmati saja
Ketika menyesal atas suatu tindakan, nikmati saja

Siapa pun tentu pernah mengalami kebosanan, kekecewaan, dan penyesalan. Sebagian banyak dari kita ingin membuang kenangan tentang pengalam itu karena merasa terbebani, membuat suasana tidak nyaman. Tidak di pungkiri, memang itu mengenang atau terkenang masa itu dapat membuat suasan tidak nyaman, bahkan mungkin berakibat putus-asa, pesimis, tidak percaya diri, dsb.

Tetapi, yang harus kita ingat, bosan, kecewa, sesal, duka, luka, nestapa, getir, sedih, dan segala perasaan yang tidak pernah diharapakan adalah makhluk yang di-ada-kan oleh Kholik. Bukankah tidak mungkin Dia meng-ada-kan sesuatu tanpa hikmah? Kesukaan, kesenangan, dan kebahagiaan akan kita rasakan ketika kita menyikapi keadaan, kenyataan, dan tindakan dengan suka, senang, dan bahagia.

Biarkan perasaan dan pikiran kita menikmati bosan, kecewa dan sesal hingga sampai pada pengertian yang ragam. Bukankah setiap yang dilakukan adalah akibat dari apa yang kita yakini. Tidak mungkin ketika kita yakin bahwa diri kita ragu untuk melangkah kemudian kita melangkah; kalau pun mungkin, maka kita telah terlepas dari kesadaran.

Ngampus

Saya melihat mahasiswi2 itu bersolek-molek, crat-crut parfum di ketiak, dada, leher bahkan punggung dan berdandan semanis dan semeriah mungkin. untuk apa? ngampus tentunya.

terminologi 'kampus' kini telah bergeser makna menjadi catwalk supergede yang diisi dengan model-model kecil sok gede.Oke, mari kita tilik kampus konservasi yang World Class University itu, dulu pada waktu masih bertengger julukan 'kampus kaum dhuafa' apakah mahasiswa-mahasiswinya seperti sekarang ini? tentunya tidak.

Seperti melihat Indonesia sebelum masa globalisasi, tentu remaja yang sudah tidak perawan sebelum menikah akan agak sulit ditemukan daripada sekarang ini, remaja yang masih perawanlah yang sudah sulit ditemukan. salahkah? tidak! lho kok? ya tidak!

masa berani melangkah ke masa globalisasi tidak berani menerima resikonya? entah besar entah kecil, resiko selalu menggelayut mesra pada setiap keputusan.

Kembali ke kampus konservasi. sekarang pamornya melejit jauh ke angkasa raya, mengalahkan teman sejawatnya yang tertua di kota lumpia bahkan. kenapa? jumlah uang masuknya dong yang bisa buat beli motor... tentunya pamor itu berdampak pada mindset mahasiswanya untuk berpamor lebih tinggi daripada yang dulu biar tidak dianggap 'sisa-sisa kaum dhuafa yang masih tertinggal'. alhasil, lihat sekarang kampus konservasi jadi catwalk supergede dengan model-model superbanyak tanpa bayaran.mereka bercelana jeans, entah prodi yang disandang mengandung embel2 pendidikan atau tidak. gadis2 itu berkaos ketat, mungkin kaos ketat sekarang digolongkan sebagai kemeja atau blus inovasi baru. cowok2 itu bermotor gagah dan keren, mungkin sekarang motor adalah tolok ukur isi otak manusia. kampus jadi sesak dengan kepura-puraan.

iya, iya, tidak semua.

tentunya masih ada yang seperti dulu, hidup penuh kesederhanaan, keprihatinan, apa adanya...


Usia

Kemarin di sebuah angkot saya bertemu dengan seorang lanjut usia. Tiba-tiba fikiran saya menyelusup begitu saja memasuki kedalaman otak bagian yang ngomongin psikologi  di usia yang sudah senja, kira-kira apa yang orang-orang fikirkan? Saya sendiri sih rasanya belum pernah berandai-andai bagaimana hari tua saya nanti. 

Apakah mereka ketakutan akan datangnya nafas terakhir? Apakah mereka melakukan hal yang paling baik yang mereka bisa usahakan demi mendapat hasil yang baik pula di kehidupan mereka selanjutnya? Atau mereka memanfaatkan waktu yang tersisa untuk melakukan apapun yang mereka inginkan selagi ada kesempatan? 

Lalu mata saya kembali menatap refleksi diri pada cermin di depan. ‘Jangankan nenek itu, saya pun bisa berakhir dimana saja.’ 

Jadi, saya berfikir dengan pandangan saya sendiri. Jika saya ditanya apa yang sedang saya lakukan dengan hidup saya ini yang kapan-kapan akan berakhir, saya akan malu untuk menjawab “I’m not doing anything.” Kesempatan dalam bentuk apapun yang diberikan harus kumanfaatkan dengan baik. Jangan sampai menyesal… jangan sampai menyesal… jangan sampai menyesal… begitu saya berbisik untuk mendorong diri sendiri. 

Semoga saya bisa melakukan semua hal yang baik yang bisa memuliakan dan mempermudah segala jalan saya menuju hal yang baik pula. Usia bukanlah semata-mata jumlah angka yang pernah ditempuh dalam satu kehidupan. Tak peduli usia banyak atau usia sedikit ( tua atau muda maksudnya :D ). Maka bagi saya, USIA adalah keberartian jangka waktu yang dipercayakan Tuhan pada kita. Ah, mudah-mudahan saya dapat selalu mengingat itu untuk selalu menjadi baik.

### mEt mLM sAYaN9.. 9iE nAPa niYH?! ###
Sebuah pesan masuk segera kaubaca . Dan serta merta jantungmu berdegup kencang membayangkan wajah polos di balik sana yang kaubayangkan pastinya juga sedang memikirkanmu. Segera kamu mengembalikan waktu kepada saat paling berkesan dengannya. Dan hatimupun telah jatuh ke dalam lingkaran waktu yang tak lagi bernama. Naluri dan akal sehatmu buta oleh persepsi yang telah kamu bangun sendiri oleh kata-kata yang tersusun dalam smsnya.

### udAh Maem LoM nYh?! mW aQ bAWaiN aPA dR sINi?J ### 
Gambar senyum di akhir kalimat smsnya menandakan betapa hatimu sedang berkaca-kaca dalam gembira. Indahnya dunia! Kali ini kamu melayang seolah sang permaisuri yang dimanja oleh sang raja. Ia sangat memperhatikan dan mengagumimu, kawan. Padahal kamu nggak pernah tahu kalau aku sedang mengirimkan sms yang sama pada sekian orang, yang kesemuanya makhluk Tuhan sepertimu. Yang paling seksi, dan seksi sekali!. Hahaha. Kenapa kamu mudah sekali tertipu oleh sanjungan basa-basiku, gadis..?! Hati-hati wahai kamu kaum perempuan, hari ini bukan lagi jaman emak atau mbah buyutmu yang seumur-umur jarang ngomongin cinta tapi sekalinya mereka ngomong cinta, cinta mereka itu beneran.

Nggak yang kayak cintanya anak sekarang yang dengan gampangnya bisa diungkapkan lewat sms seharga seratus perak, atau setangkai bunga duaribu perak, atau sebatang coklat tujuh ribu perak atau cara-cara praktis lainnya yang kamu anggap sebagai simbol perasaan mereka yang begitu besar kepadamu.

Bullshit sumpah! Ia hanya ingin membangun persepsi tertentu dimatamu.

Adzan

Mobil itu melaju kencang. Berpacu di jalan yang tidak mulus. Salahkan saja hujan, sebagai perusaknya. Maka semua pihak merasa senang. Di dalam mobil, dentuman album metal paling anyar domba tuhan, dengan hentakan double pedal dan irisan dawai logam membentur-benturkan kepala ketiga anak muda usia penumpangnya. 

17:23. Langit pinggiran metropolitan masih dijilati matahari. Menyisakan rona senja yang memagut mata. Jalan yang dilewati mulai menyempit. Speedo meter menyusut sistematis. Musik meraung belum sampai di ujung kapasitas keeping bajakan. Adzan perlahan berkumandang mengiringi memerahnya warna langit. Di dalam mobil kini sunyi, metal domba tuhan dimatikan begitu saja. Ketiga pasang mata anak muda tampak jelalatan. Bagai elang melihat tikus tanah. Ketika sumber suara jelas menyembul di balik rimbun pepohonan, sumringah rona wajah mereka. 

Posting Lama

Blogger Template by Blogcrowds