Catatan pribadi tentang apa saja

Jumat, 04 Maret 2016

Setan itu bernama Medsos


Media sosial yang kian menjamur seperti facebook,twitter,line,instagram,bbm dan masih banyak lainya maka sudah menjadi keniscayaan bahwa  media sosial  menjadi konsumsi sehari-hari bagi masyarakat banyak,alasanya bisa macam-macam.

Ada yang menggunakanya sebagai ajang curhat,menambah pertemanan dan lain sebagainya.manfaat yang bisa didapat tentunya banyak,sebanyak itu pula yang harus diwaspadai,seperti misalnya terlalu berlebihanya kita mengekspresikan kemarahan dan kebencian di media sosial
Itulah fenomena yang terjadi akhir-akhir ini,si A menyindir B yang tersinggung si C ,si D ikut-ikutan baper dan mulai membuat serangan balasan ke si E ,melihat A B C D E  setan pun tertawa penuh kemenangan,apakah setan berhenti sampai disitu? tentunya tidak,maka jebakan setan yang lainpun segera dipasang,mari kita lihat


Kali ini jebakan setan dibungkus dengan baju dakwah dan ibadah,ya dakwah manis sekali mendengarnya bukan? melalui tulisan-tulisan dimedia sosial yang katanya ingin mengajak kebaikan,tapi terkadang kerap kita terjebak pada perangkap sombong karena kita sudah merasa alim ,
Dalam hal ibadah juga tidak jauh beda,untuk hal yang satu ini setan lebih dalam lagi masuk kedalam jiwa kita dengan menebar virus Riya alias pamer,bayangkan saja mulai dari puasa senin kamis sampe berupa-rupa sholat sunnah,apdet status sedang jumatan dimasjid anu lengkap dengan foto selfie berlatar belakang kubah,dan juga ada yang hobi mengcopas ayat dan khadis hanya untuk mengejar like dan komen,serta pujian sebagai target akhirnya

Lalu kemudian bagaimana kita seharusnya menyikapinya?

Sampai tulisan ini dibuat,saya sndiri belum menemukan refrensi atau panduan atau apapun namanya tentang bagaimana 'bermain" facebook secara syar’i.Facebook sendiri adalah contoh nyata bagaimana situs media sosial ini menawarkan kesenangan yang sesungguhnya  adalah kebahagiaan semu,dalam bahasanya karlk mark menjadi orang yang terasing.

akan tetapi ibarat pisau bermata dua,menjadi manfaat tergantung diri kita


Mereka terasing karena begitu asyik merengkuh Facebook, meski hanya untuk sekedar melakukan pembaharuan status. Keterasingan itu juga muncul ketika seseorang merasa tidak “eksis” dan tertinggal ketika dia tidak memiliki aktivitas yang berkaitan dengan Facebook. Ia kemudian menjadi tidak produktif.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/nitanoeris/ilusi-situs-jejaring-sosial-perangkap-globalisasi-dan-kapitalisme-global_5509e0e78133115a71b1e35d




2 komentar:

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Sekitar Kita | Powered by Blogger
Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com