Catatan pribadi tentang apa saja

Kamis, 25 Februari 2016

Bukan Cerita Penggusuran

Hampir 20 tahun saya dan orang tua tinggal dan menempati rumah dinas sebuah kantor instansi pemerintah di kab pemalang,karena terlalu lamanya menempati rumah dinas itu sampai lupa bahwa sebenarnya rumah yang kami tempati hanya sementara,penggunaanya diperuntukan hanya ketika ayah saya bekerja pada instansi tersebut dan ketika mulai masuk masa pensiun maka rumah dinas itu tidak berhak kami tempati lagi ,sebagai anak ganteng yang masih tinggal dengan ortu ini, saya bisa marasakan sendiri bagaimana kesedihan dari orang-orang yang terusir.

Mungkin kalimat penggusuran terlalu berlebihan sebab menilik dari pengertian kalimatnya penggusuran  adalah pengusiran paksa baik secara langsung atau tak langsung yang dilakukan  pemerintah setempat terhadap penduduk yang menggunakan sumber daya lahan untuk keperluan hunian maupun usaha.bahasa gampangnya disuruh pindah.

Tapi instruksi "disuruh pindah" yang terlalu mendadak ini bagi kami sudah tergolong unsur pemaksaan,akhirnya menjadi kepanikan tersendiri ketika kami bahwa hari itu juga harus angkat kaki,sebenarnya ayah saya sudah memprediksi mengenai hal ini makanya setahun yang lalu sudah ada planing dan 3 bulan sebelum instruksi mendadak itu ayah saya sudah membangun rumah.ketidak siapan beres-beres dan packing terus harus nyari mobil carteran pada hari itu juga kontan membuat seluruh persendian rontok ditambah lupa untuk mencari dukun sakti yang populer disebut pawang hujan itu untuk turut serta dalam prosesi ini sehingga kami tidak basah kuyup disaat beres-beres barang itu.



Sempat kami melayangkan protes perihal "mendadak" ini kepada orang kantor tapi pada akhirnya kami harus mengerti dan memahami bahwa memang kami harus pindahan.karena kantor mau di renovasi,sehingga untuk menampung pegawai kantor dan demi tetap berjalanya roda pemerintahan maka seluruh stake holder menempati rumah dinas yang pernah kami tempati itu.

packing menempati rumah baru
Maka yang terjadi kemudian adalah sebuah pemandangan khas ibu kota dan daerah-daerah lain di indonesia yaitu harus pindah dari rumah yang sudah di tempati bertahun-tahun.saya lebih beruntung dibanding mereka-mereka yang entah kemana tujuan selanjutnya harus tinggal,


foto ilustrasi korban penggusuran.sumber liputan6

maka disatu sisi saya bisa memahami kesedihan mereka-mereka yang harus angkat kaki dari tempat tinggal sebelumnya,saya tidak melihat kasus perkasus apakah soal penggusuran kalijodo,atau kampung pulo,atau para eks gafatar yang kebingungan untuk sekedar pulang kekampung halaman sendiri.baik pemerintah maupun masyarakat yang kena dampak penggusuran tidak ada yang benar dan tidak ada yang seratus persen salah.
Saya sendiri menempatkan posisi dalam bingkai sebagai bagian orang yang dipercaya  dititipi barang oleh orang lain,ketika sewaktu waktu barang itu mau diambil kembali oleh pemiliknya maka sikap yang paling bijak dan wajib adalah menerima dengan ikhlas,disinilah pentingnya sebuah perencanaan jangka panjang,baik lahir ataupun batin tentunya.

Dalam kontek yang lebih luas apalagi jakarta hal-hal yang saya alami bisa menjadi pemicu konflik,apalagi kalau tidak ada data pendukung atau hitam diatas putih bagi para pemilik lahan/rumah sengketa di jakarta yang menunjukan bukti kepemilikan sah maka harus siap-siap angkat kaki.

Inilah konsekuensi logis dari sebuah kebijakan yang bersifat dehumanisasi,yang katanya demi keindahan,efesiensi dan ekonomi negara menjadi prioritas dibanding dimensi humanis padahal jangan dilupakan kesalahan masa lalu yang tidak bisa menjawab soal pemerataan ,serta gagap menghadapi makhluk yang bernama urbanisasi menjadi awal mula dari benang ruwet ini.

lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?

ngopi sambil menjelek-jelekan pemerintah di sore yang cerah ini sungguh perbuatan yang terpuji,maka  nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?




0 Coments:

Poskan Komentar

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Sekitar Kita | Powered by Blogger
Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com