Catatan pribadi tentang apa saja

Selasa, 25 Mei 2010

Terkait Whistle Blower

Inilah yang pernah saya khawatirkan akan terjadi terhadap Susno Duaji (SD) ketika dia mulai meniup peluitnya mengenai kasus-kasus korupsi yang membawa institusi Polri ke publik. Terlepas dari apakah perbuatan SD itu heroik atau tidak, yang sejak awal saya kemukakan adalah "backlash" (pukulan balik) yang akan diterima dari lembaganya, karena SD akan dianggap sebagai orang yang tidak mampu menjaga loyalitas, martabat, dan kehormatan corp. 

Di manapun di dunia ini, masalah yang satu ini sangat kontroversial dan dilematis. Kontroversial, karena ia pasti menciptakan pro dan kontra baik di dalam korps maupun di ruang publik. bagi yang pro, sikap SD memang sudah semestinya dilakukan karena kebenaran bagaimanapun mesti diungkap, no matter what! Bagi yang kontra, sikap SD adalah bertentangan dengan loyalitas dan kehormatan lembaga yang harus dijaga, kalau perlu dengan segala cara. Kebenaran, kalau toh itu memang ada, harus dilihat dalam konteks yang lebih luas, misalnya dampaknya pengungkapan tersebut terhadap moral para anggota Polri.

Perkara meniup peluit macam SD ini juga dilematis. Di satu pihak, keinginan menumpas kejahatan korupsi adalah komitmen seluruh anak bangsa dan juga Pemerintah. Oleh sebab itu apa yang dilakukan SD adalah momentum yang barangkali tak akan terjadi lagi dan harus dimanfaatkan demi kemaslahatan bangsa. Di pihak lain, jika proses pemberantasan ini tidak terukur, maka akan membuat lembaga Polri sebagai sasaran tembak utama yang implikasinya akan bersifat nasional serta dapat memperlemah lembaga penegak hukum secara keseluruhan.

Bisa dibayangkan manakala Polri kehilangan otoritas moralnya secara nasional, maka seluruh proses penegakan hukum plus para penegak hukum Polri akan menjadi bulan-bulanan. Tak peduli apakah mereka Polisi baik atau setengah baik atau tidak baik, karena telah terjadi demoralisasi secara institusional, maka penegakan hukum menjadi goyah. Hasilnya adalah kondisi anarkis yang hanya membuat senang musuh-musuh bangsa ini. Karena itulah sejak awal saya sangat menyayangkan langkah "bombastis" yang ditempuh SD, kendati saya juga tak akan bisa dan tak mungkin mencegah. 

layaknya sebuah perumpamaan Jawa "kriwikan dadi grojogan" atau aliran air yang kecil, menjadi air terjun. dengan kata lain, masalah yang mula-mula bisa diselesaikan dengan resolusi konflik internal Polri, lantas out of control karena terbuka blak. Publik yang sedang marah dengan berbagai kasus korupsi dan inkompetensi para penegak hukum (bukan cuma Polri tetapi juga Kejagung, MA, Kehakiman, dsb) tentu akan makin marak kemarahannya dengan pelbagai issu yang dibuka oleh SD. Ketidak mampuan kepemimpinan Polri dan Pemerintah untuk mengelola persoalan, pada akhirnya mengarah kepada cara klasik untuk menghentikan masalah sekali pukul, yaitu jusrus membunuh seekor tikus dengan membakar lumbung! 

Saya melihat dengan menjadikan SD sebagi tersangka dalam dua kasus (Arwana dan Pemilukada Jabar) merupakan langkah kepepet dari Polri untuk menyelamatkan lembaga dari kerusakan lebih lanjut. SD lantas menjadi ikon dari mimpi paling buruk seluruh lembaga ini: keterpurukan martabat dan kehormatan korps, serta potensi ketidak loyalan yang akan menghancurkan kekuatan moral korps. 

Jika Pemerintah dan khususnya Presiden (yang notabene adalah atasan langsung Kapolri) diam saja dengan alasan menjaga netralitas, maka saya yakin sikap Polri akan semakin vulgar dan cenderung habis-habisan! Ibaratnya, Polri berada dalam kondisi "to be or not to be" ketika SD ternyata makin "ngeyel", tak mau berkompromi, menantang dan, ini yang repot, semakin mendapat banyak dukungan dari publik yang makin marah! Irasionalitas pembelaan korps akan bertabrakan langsung dengan irasionalitas publik yang marah dan haus akan "hasil" pemberantasan korupsi. 

Saya bisa saja salah. Bisa saja SD makin moncer dan Polri bisa ditundukkan publik. Atau Polri akan membungkam SD, lalu semua menjadi tenang kembali. Kalu itu skenarionya maka masalah ini akan berakhir manis. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kalau dari "kriwikan" malah jadi "grojogan" lalu makin besar menjadi air bah yang akan memporak-porandakan Republik ini? 

Wallahu a'lam.

source : 
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/05/25/145064/16/1/Susno-Jadi-Tersangka-Kasus-Dana-Pemilu-Kada-Jabar
http://www.detiknews.com/read/2010/05/25/225233/1364087/10/pengacara-susno-nilai-polri-rekayasa-kasus-hukum-susno?991101605
http://suar.okezone.com/read/2010/03/24/59/315703/susno-pahlawan-kesiangan

 

13 komentar:

  1. makin gayeng aja nieh kasus...dulu dihujat karena nyebut KPK cicak sekarang disanjung...kalo mengenai dukung-mendukung sih gw gak ikutan bung...kl gw dukung SD gw jg gak dapet apa-apa dari uang arwana itu...wes...seng gendro ben dho gendro...gw mah cuman jd penonton yg baik ajah...

    BalasHapus
  2. yanh tinggal tunggu waktu aja, siapa2 ntar yg ikut terlibat...

    BalasHapus
  3. tersangka akan terus terungkap, sampai2 yg membeberkan kasus ini aja juga jadi tersangka ckckc...

    BalasHapus
  4. kasus yang sangat sederhana akan tetapi menjadi rumit ketika suatu kesalahan/penyimpangan tidak diungkapkan dengan alasan loyalitas atau prestise suatu institusi. POLRI sebagai suatu institusi adalah benar, akan tetapi oknum2nya yang salah seharusnyala tidak berlindung dibalik institusi POLRI. Dan kesempatan bagi POLRI sebagai institusi dan pejabatnya baik sebagai individu atau mewakili institusi yang baik & benar (kalaupun ada) untuk secara transparan mengungkapkan "kasus yang sederhana" itu.

    BalasHapus
  5. Apapun yang terjadi
    seharusnya polisi lebih mengedepankan kasus yang dibongkar SD
    coba kalo dia ngga ngobrol?
    apa semua orang bakalan tahu ada makelar kasus di tubuh POLRI?

    BalasHapus
  6. @2781513044371974484.0
    ho oh bung,,jadi penonton yang baik aja leewat dagelan ini sambil minum kopi plus ngelus dada..

    BalasHapus
  7. @5272552214332091837.0
    terlalu banyak yang terlibat..suseh :D

    BalasHapus
  8. @6602637488587946860.0
    jadi seru yah...tunggu kelanjutanya.*peluit akan semakin kencang utk di tiupkan

    BalasHapus
  9. @7002337133372904139.0
    persoalanya sekarang sdh tdk sesederhana itu bung..."kriwikan" yg sdh jadi "grojogan",,jangan sampai jadi "air bah",

    BalasHapus
  10. @4268311412621940285.0
    terlalu banyak kepentingan yang bermain dalam kasus SD ini,,sudah terlanjur..mari kita tonton saja..

    BalasHapus
  11. @4796241908140732661.0
    mampir di tempat gw aja yuk....disini pusing :D

    BalasHapus
  12. Yap ini baru 2G gimana lagi kalo 3G..??
    Halaaahh...gitulah 'G' problem...!!

    Salam beribet...!!

    BalasHapus

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Sekitar Kita | Powered by Blogger
Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com