Catatan pribadi tentang apa saja

Sabtu, 21 Agustus 2010

Mengapa Umat Islam Cenderung Reaktif ?

Suatu ketika saya berdebat dengan seorang teman tentang surga dan neraka. Ia berpendapat, orang masuk surga karena amalnya. Saya menolak pandangan itu. Bagi saya, orang masuk surga karena rahmat-Nya. Karena cakupan pandangan ini lebih etis dan luas, seperti kemahaluasan Tuhan itu sendiri.

Teman saya masih bersikeras. Katanya, jika menurut pada pendapat saya tentang rahmat Tuhan, berarti sia-sia saja orang beramal shalih. Saya bilang, sama sekali tidak! Mungkin yang sia-sia itu niatnya: ingin masuk surga.

Untuk mendukung pendapat, saya ceritakan sebuah riwayat yang biasa kita dengar. Seorang pelacur masuk surga karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Padahal dirinya juga bernasib sama. Sampai kemudian si pelacur tadi meninggal. Hanya karena rahmat Tuhan lah, yang menentukan nasib pelacur itu. sifat-Nya yang rahman-rahim itu menyelamatkannya dari api neraka.


Teman saya tercenung sejenak. Tatapan matanya ingin mengatakan sesuatu, namun tak kunjung saya mendengar kalimatnya. Sampai kemudian ia berkata, "kalau begitu Thomas Alpha Edison pun akan masuk surga." Saya kembali mengatakan, belum tentu! Ia pun membantah. "Lha, pelacur saja yang amalnya begitu di menit-menit akhir hidupnya bisa masuk surga, kenapa Thomas Alpha Edison, penemu bola lampu listrik itu belum tentu masuk surga?".

Saya katakan padanya, masalah kita bukan soal surga-neraka. Kita sedang bicara tentang rahmat Tuhan yang Maha Kasih itu. Namun diam-diam, sebenarnya saya memuji kekritisannya. Hanya mungkin, saya dan dia berada pada sisi yang berbeda dalam memandang masalah agama.

Dari cerita itu saya ingin katakan bahwa kita sering bereaksi atas sesuatu sebelum mencoba melihat sesuatu itu dari sudut pandang yang lebih luas. Seperti kasus teman saya tadi, seolah-olah hidup adalah ambang batas surga-neraka. Cara kita bereaksi atas kasus-kasus, peristiwa-peristiwa tertentu, khususnya berkaitan dengan sentimen agama acap kali didahului dengan cara pandang atas agama yang reaktif.

Singkatnya, sesuatu yang sedikit saja dapat menyinggung perasaan keagamaan kita dicap 'penghinaan terhadap agama'. Padahal, sekali lagi, kadang-kadang kita sendiri belum tahu persis substansinya. Ini seperti cerita Salman Rusdi dengan bukunya, Ayat-ayat Setan (The Satanic Versies). Sebuah novel yang menghebohkan. Novel yang mendorong Imam Khomeini memutuskan hukuman mati kepada penulisnya. Kita, mungkin saja sampai hari ini pun belum sempat membaca novel itu. Jangankan membacanya, melihat saja buku itu jangan-jangan belum pernah..contoh yang lain? silahkan cari sendiri.........

Sampai di sini saya berpikir apakah tugas keberagamaan kita selalu berawal dari reaksi atas sesuatu. Semakin tinggi reaksi kita semakin baik cara kita beragama. Apakah harus begitu? Wallahu’alam.

12 komentar:

  1. salam sahabat
    subhanAllah hal yang tak semua orang ketahui....sangat bermanfaat..thanxs ya

    BalasHapus
  2. Kadang aku ngerasa reaksinya berlebihan yah..
    Ga tauk ahh,, masalah beginian takut salah komen..hihihiii..

    BalasHapus
  3. sama..
    aq juga takut..
    takutnya nanti kita bilang salah..
    ternyata benar di mata Allah..
    Wallahu A'lam

    BalasHapus
  4. Terkadang kita memang gampang terburu-buru.
    Padahal Rasul sudah mengingatkan, bahwa terburu-buru itu adalah pekerjaan syetan.

    Semoga Allah melindungi kita dari pemikiran-pemikiran yang tdk terkendali.

    Wallahu'alam bishawab.
    Nice posting.

    Salam Blogger

    BalasHapus
  5. hmmm terkadang memang manusia punya beragam pendapat dan kesimpulan akan hal² seperti ini semua berdasarkan sudut pandang mereka masing² dan selalu membenarkan pendapatnya, saya hanya menyimak tanpa berani berpendapat banyak
    Sukses slalu!

    BalasHapus
  6. Bwtul sobat. Sy pun kerap berpikir, kok kita cepat reaktif terhadap sesuatu perbedaan atau salah paham yang berbau agama. Mestinya kan dipahami dulu soalnya. Apalagi diera reformasi sekarang ini, soal yang berbau agama sangat sensitif, dan mudah menjadi pemicu domo bahkan kerusuhan. Apa di negera2 yang warganya muslim juga begitu? Jangan-jangan hanya di negeri kita saja...

    BalasHapus
  7. betul sobat,,ane jg mikir gt... mungkin karena bawaan dari sononya kali ya

    BalasHapus
  8. Assalamualaikum... wr. wb...
    Menurut saya semua sama saja sob,..
    Orang masuk Surga karena beramal dan mendapatkan Rahmat dari Allah SWT. :))
    Tetapi juga tergantung pada diri kita sendiri, karena manusia tempatnya salah dan dosa...
    Wassalamualaikum wr. wb...

    BalasHapus
  9. Hmm, ya.. tidak semua sih, itu tergantung pola fikir individu masing2 saya kira.. :)

    BalasHapus
  10. halo mas aan.. pkbr ? kok tumben loama ga update posting nih ?

    BalasHapus
  11. Nah, itu dia seperti kita yang mengatas namakan nasionalisme langsung menghujat Malaisyiah, padahal seharusnya sebelum menghujat kita kan intropeksi diri dulu...
    Semua ada sebabnya...

    Begitu pula dengan orang Islam yang mengatasnamakan Islam sampai over reactive. Harusnya sebagai umat beragaman yangbaikmendengarkan saja, kalau salah diluruskan dengan tanpa emosi :)

    Semoga saya gak salah bicara :)

    Salam!

    BalasHapus
  12. mampir ke sini untuk ngucapin :
    Minal Aidin Walfa'idzin ,,
    ...Slamat Idul Fitri 1431 H Mohon Maaf Lahir & Bathin yaaa... ^_^

    happy blogging dan sukses selalu

    BalasHapus

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Sekitar Kita | Powered by Blogger
Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com