Catatan pribadi tentang apa saja

Selasa, 17 Agustus 2010

Saum

Kemarin ngalor ngidul dengan rekan kerja tentang betapa patuhnya orang orang beragama islam untuk menjalankan ibadah puasa. Pertanyaannya kenapa tidak mudah untuk patuh agar tidak melakukan korupsi atau yang lebih sederhana lagi semisal kepatuhan untuk mentaati aturan berlalu lintas.
 
Sampai hari ini bangsa kita memiliki prestasi yang bagus dalam hal bangsa dengan ranking korupsi tertinggi didunia, tentunya mengalahkan tetangga kita Malaysia dalam hal ini. Sayangnya tema seperti ini jarang diangkat dibulan puasa. Yang terdengar lagi lagi kang setan maupun kang iblis yang telah kadung apes sebagai sikambing hitam.
 
Walaupun dalam sejarahnya tidak pernah ada kisah nyata tentang para iblis yang melakukan tindak pidana korupsi, melakukan pembunuhan atas manusia atau tindak kejahatan lainnya, segala perbuatan buruk pastilah ditimpakan kepada sang iblis. Artinya manusia disini diposisikan dipengaruhi, tidak pernah ada ajaran yang mengajak manusia mempengaruhi sang iblis agar menjadi iblis yang baik dan santun.


Konon dibulan puasa kang iblis ini dicemplungkan selama sebulan masuk kepenjara. Kita tentunya sepakat bahwasanya hal hal religi dan spiritual tidaklah selalu bisa dipertanyakan secara logika. Karena wilayah ini berada dalam ruang ruang wilayah proses batiniah yang tidak selalu mudah dijelaskan dengan kata kata. Juga jangan sekali kali mempertanyakan dasar ajaran seperti ini kepada para penyiar atau pengkhotbah ajaran, akan ada sederet ayat ayat pendukung dengan berbusa busa disiapkan sebagai tameng. Intinya segala sesuatu yang berada dibalik kata 'iman' haruslah diterima apa adanya, mengerti tidak mengerti harus ditelan apa adanya, berani bertanya cemplungan neraka risikonya.
 
Seorang rekan dipesbuk menyatakan pemaknaan iblis masuk penjara itu diartikan sang iblis bisa masuk melalui makanan. Katanya lagi, iblis itu adalah sebangsa mahluk jin. Tidak jelas apakah itu berdasar katanya atau beliau memang pernah ngobrol dan melihat kang iblis tersebut. Jadi dengan berpuasa dengan tidak makan, itu menghindarkan si jinni ini masuk kedalam badan disiang hari.
 
Hemm, bisa saja pemaknaannya seperti itu, tetapi rasanya ada yang janggal dalam membaca penjelasan tersebut. Lagi lagi hal seperti ini tidak perlu dipertanyakan termasuk apakah setelah bulan puasa berlalu berarti santapan makanan siang kembali lagi menyantap si jinni itu mentah mentah entahlah..
 
Masalah sex juga menjadi fokus, selama bulan puasa dilarang melakukan sanggama disiang hari. Kalau habis berbuka silahkan melakukannya. Kecuali pengangguran yang telalu banyak makan makanan panas atau orang orang yang kebetulan memiliki libido menggebu, sebenarnya agak janggal bila ada orang yang berhasrat melakukan sanggama disaat saat waktu jam kerja. Kecuali dengan selingkuhan yang aduhai hal itu bisa saja terjadi seperti yang ditayangkan divideo porno. Tetapi entah kenapa larangan2 seperti ini justru diutamakan dalam ajaran berpuasa ini.
 
Kultur Arab memang menganggap wanita sebagai obyek seksual dan warga kelas dua. Wanita adalah obyek yang harus taat untuk menutup semua aurat agar birahi pria tidak menggebu gebu. Tentunya bukan sebaliknya, semisal mata pria ditutup saat melihat wanita molek. Atau barang sang pria berlibido tinggi diberi pemberat hingga tidak mudah untuk turun dan naik. Apapun rumusan larangan itu tidak akan berlaku bagi dunia gender pria, dan wanitalah yang dijadikan tumbal. Sebaliknya, para wanita itupun senang dijadikan obyek seksual. Karena itu dimana mana wanita yang hanya kelihatan mukanya semakin semarak bertambah banyak.
 
Ada banyak hal yang janggal dan aneh bila membahas pemaknaan pemaknaan yang kita dapatkan sehari hari bila berkaitan dengan hal hal agama. Hal hal janggal bagi akal sehat, tetapi sudah tidak menjadi kejanggalan dimasyarakat pada umumnya.

19 komentar:

  1. Berarti nilai-nilai puasa belum terinternalisasikan. Menahan diri dari makanan dan minuman halal sehari kuat, tetapi menahan diri dari harta haram tidak bisa

    Salam ukhuwah

    BalasHapus
  2. Hehe...
    asyik nich...saya setuju...
    kalau menurut saya mas...agama itu ilham dan bersifat ke atas...sehingga akan sulit untuk memikirkan semuanya secara logika...semisal kita memikirkan apa warna seblum hitam dan putih...pastilah sangat sulit untuk mengartikannya...karena semua itu rahasia Illahi...
    hehe...walaupun saya bukan orang cerdas beragama tapi menurut saya seperti itulah kenyataannya...

    BalasHapus
  3. Semua perintah di dalam syariat agama mengandung pelajaran dan hikmah. Semuanya mempunyai makna dan maksud. Bukan suatu kesia-siaan. Kita harus cermat, jeli dan mau belajar kepada ahlinya untuk memahami semua itu.

    BalasHapus
  4. saum-puasa-poso-fasting-menahan.
    begitulah kira kira...

    BalasHapus
  5. Puasa itu bukan hanya menahan lapar tapi semua nafsu...

    btw, blm pernah kan denger setan bicara begini:

    " enak aja loe nyalah2in gue, orang lo sendiri yang nyosor!

    saya jg blm pernah..he he he

    BalasHapus
  6. emang korupsi itu sesuatu kesempatan yang juarang jadi , mungkin saja yang dapat kesempatan itu khilap ha ha ha

    BalasHapus
  7. Hmm...selama berkunjung ke sini. Ini atikelmu yg paling menarik 'n menggelitik hatiku. Suwer ewer-ewer. Cuma anehnya baru artikel ini yg harus berulang kali ku coba comment, namum gagal/macet. Ntah yg ini, semoga 'jinak'..! he he he..

    Banyak poin yg menarik dr statement-mu. Bisa2 commentku nanti lebih panjang dari postingan-mu. (gaya aj gitu. hu hu hu).
    OK..yg ini aj deh yg aku respond:

    "...Intinya segala sesuatu yang berada dibalik kata 'iman' haruslah diterima apa adanya, mengerti tidak mengerti harus ditelan apa adanya, berani bertanya cemplungan neraka risikonya..."

    Tidak ada ke-HARUS-an untuk menelan apa adanya. (La ikroha fiddiin). Jika merasa belum bisa mengerti or memahami, itu artinya qta HARUS belajar dan belajar lagi. Karena 'amal yang tanpa diiringi ilmu akan buntu. Tdk ada KENIKMATAN di situ.
    Alangkah naifnya jika keterbatasan qta yg belum mampu 'membaca' (IQRA')firman-NYA, baik yang tersirat maupun tersurat, baik yang melalui kitabNYA atau AlamNYA yang luas terbentang ini, trus kita menjudge.... "kata 'iman' haruslah diterima apa adanya, mengerti tidak mengerti harus ditelan apa adanya,.." he he he..!

    Salam Blogger

    BalasHapus
  8. Alhamdulillah... berhasil 3x..!

    penuh perjuangan euyy..!

    Salam Hangat..!

    BalasHapus
  9. Kalau masalah kepercayaan memang gak bisa dikaitkan sama logika mas....

    BalasHapus
  10. Betul juga ya mas,,, Gak terpikir sebelumnya...

    BalasHapus

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Sekitar Kita | Powered by Blogger
Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com