Saya jadi teringat dengan sebuah guyonan begini: "Nanti di akhirat, bisa jadi Tuhan akan menyediakan neraka khusus untuk sebagian besar orang-orang yang ketika hidup pekerjaannya mengurusi Ibadah Haji, dan ternyata yang paling banyak berada di sana dulunya bekerja di departemen Agama."
Ketika saya membaca berita ini, pikiran
saya melayang kepada guyonan "hitam" itu tadi. Soalnya, mengerikan
benar bahwa menurut Wakil Ketua KPK terdapat indikasi pemborosan
RATUSAN Miliar di Depag, khususnya dalam masalah penyelenggaraan haji..(berita detik 06/05/2010)
Tentu saja semua ini bukan rahasia lagi, karena sepanjang sejarah mulai
Orba sampai sekarang, hakekatnya penyelenggaraan haji Indoneisa,
menurut pengamatan saya, adalah sebuah proses sistematis pemerasan plus
penindasan yang dilakukan elite Penguasa (atas nama negara) terhadap
rakyat, khususnya ummat Islam yang ingin menunaikan ibadah agar
sempurna keislaman mereka.
Bagaimana tidak? rasanya seumur-umur
tidak pernah ada sebuah laporan evaluasi terhadap penyelenggaraan haji
di Republik ini yang dilakukan secara independen dan terbuka untuk
warganegara, sehingga semua aspek yang rentan dengan korupsi, kolusi,
dan nepotisme (KKN) bisa diketahui, diidentifikasi, lalu diberantas
secara tuntas. Alih-alih, malah pada masa Orba penyelenggaraan haji
sudah dibakukan seperti sapi perahan yang susunya dikumpulkan untuk
Penguasa, lalu dibagikan sedikit-sedikit kepada segelintir elite Islam
dan selebihnya dipergunakan untuk membiayai hegemoni negara melalui
proyek-proyek ke"islaman": pembangunan mesjid seluruh Indonesia yang
seragam, sumbangan-sumbangan untuk kegiatan pendidikan Islam, musabaqoh
tilawatil Qur'an, dll.
Sementara itu pelayanan penyelenggaraan
haji dari tahun ke tahun tidak ada atau kecil sekali peningkatan
mutunya. Mirip sebuah kaset rusak, nyanyian tentang keluhan para jemaah
haji Indonesia tidak pernah bergeser atau "mbulet" di seputar
masalah-masalah: pemondokan jauh, petugas Haji yang arogan dan
memikirkan diri sendiri, pelayanan kesehatan yang jauh dari memadai,
keamanan yang nyaris tidak ada bagi jemaah dan harta milik mereka,
transportasi yang berdesak-desakan, dan yang memilukan: soal katering
yang sering bermasalah soal delivery dan mutunya! Padahal, yang namanya
tim pemantau DPR, tim independen yang dibuat Depag, dan seterusnya
selalu ada dan biayanya juga tak kecil. Ketika di buka ruang bagi
swasta untuk ikut berpartisipasi dalam kerja penyelenggaraan Haji dan
Umroh pun, misalnya dengan ONH dan Umroh Plus, ternyata terjadi
penyalahgunaan amanah yang luar biasa sehingga bukan saja membuat
jemaah Haji terlantar, tetapi negara kita menjadi sasaran ejekan dan
cemooh oleh bangsa lain. Baik sektor negara maupun sektor swasta,
tampaknya bermadzhab sama.
Agar supaya masalah menjadi makin
memalukan, tingkat korupsi dalam bidang ini pun tampaknya tak pernah
surut. Bahkan salah satu mantan Menteri Agama pun harus mendekam dalam
penjara gara-gara masalah korupsi terkait, antara lain, penyelenggaraan
Haji ini! Ini semua berlaku dalam sebuah Kementerian yang dipercaya
mengurus masalah ibadah dan keagamaan.
Jika kita mau jujur, pertanyaannya adalah:
1. Mungkinkah Tuhan akan membiarkan sebuah bangsa yang setiap tahun elitnya melakukan penyelewengan dan korupsi besar-besaran atas nama beribadah kepadaNYa?
2). Apakah ummat yang dibohongi dan diperas setiap tahun itu tidak ada satu pun yang berdoa agar Tuhan memberikan laknat kepada para penyelenggara Haji yang KKN itu?
3). Mungkinkah mutu penyelenggaraan Haji akan bisa berangsur baik kalau tidak pernah ada sebuah akuntabilitas publik selama puluhan tahun? dan,
4) Apakah kultur menipu dan menjarah uang ummat Islam yang
sudah puluhan tahun itu akan bisa dihapus dalam waktu dekat?
Saya
sama sekali tidak kaget atau heran dengan temuan KPK. Justru saya akan
kaget kalau sampai Menteri Agama lalu melakukan pembenahan secara
fundamental sehingga tahun depan, misalnya, tidak ada jemaah yang
mengeluh soal pemondokan. Itu saja.
18 Comments:
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Subscribe to:
Poskan Komentar (Atom)
aku follow balik ya
makasih jua udah mampir
"Kejahatan akan berhasil dgn sukses jika orang2 benar memilih diam."
Entah knp stlh baca klmt tsbt kok jd 'merinding'.
@ mundo,n ivan Lebih sedihnya kalau kita bertanya, jawabnya naik haji harus ikhlas,dan jangan terlalu banyak bertanya,.
@ Jhonson..yg menyangkut hajat hidup orang banyak pasti potensi korup ya bung..
@ sri ayu.."diam"disana mengandung bayak arti kali y bu..,artinya apa bu??