Catatan pribadi tentang apa saja

Sabtu, 29 Mei 2010

Banalitas kasus Lapindo

Kalau kita mau jujur, sejatinya masalah Lapindo bukanlah hanya terletak pada PT Lapindo Minarak dan pemilik saham terbesarnya, Aburizal Bakri. Sejak 2006 ketika banjir lumpur mulai menenggelamkan sebagian desa-desa di Porong, prediksi keilmuan dan teknologi baik yang dibuat oleh pakar dari dalam dan luar negeri telah sepakat bahwa bahaya banjir lumpur akan bersifat long term dan karenanya perlu penanganan dari Pemerintah Pusat. Magnitude dari bencana banjir lumpur tersebut jelas sangat luas: setidaknya karena lumpur tidak akan terhenti kendati dilakukan penyumbatan, sehingga diperlukan relokasi perumahan penduduk yang sesuai dengan keperluan dan besaran yang ada. Jika tidak, maka masalah banjir lumpur ini bukan hanya soal kerusakan lingkungan, tetapi juga kerusakan sosial dan kemanusiaan.

di ambil dari detik Sabtu, 29/05/2010
Namun perkembangan sejak enam tahu lalu tampaknya tidak menunjukkan adanya penanganan yang tepat. Justru sebaliknya, sampai kini, bukan saja bencana itu telah merusak lingkungan dan prasarana transportasi dan ekonomi di Jatim, tetapi yang paling menyedihkan adalah penanganan bencana kemasyarakatan dan kemanusiaan yang belum tuntas. Malahan, berbagai berita mengenai kondisi para korban bencana Lapindo tersebut makin hari makin menunjukkan kecenderungan impunitas dari para penanggungjawab, di samping penderitaan manusia yang mengenaskan. Hari ini ada berita di koran bahwa beberapa korban bencana Lapindo terpaksa menjadi PSK karena kesulitan dalam kehidupan mereka setelah peristiwa tersebut. Jika berita ini benar adanya, eskalasi dari korban lumpur Lapindo telah semakin meluas, yaitu sampai kepada korban harga diri manusia (human dignity), bukan hanya soal harta benda dan ekonomi belaka. Nah, menurut hemat saya, semestinya negara sejak awak harus bertindak dan memaksa PT. Lapindo bertanggungjawab terhadap masalah relokasi tersebut. Sayangnya justru di sinilah persoalan kemudian menjadi berbelit-belit ketika aparatur negara baik pusat maupun daerah, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, hanya berfikir dan bekerja secara sektoral dan menggunakan sudut pandang sempit masing-masing sebagai acuan. Ujung-ujungnya, PT Lapindo yang memiliki dukungan politik sangat kuat dapat mempengaruhi kebijaksanaan publik secara sistematis dan menyiasati opini masyarakat secara massif melalui media massa yang dapat dibeli untuk iklan dan pengerahan pendapat para pakar dan pembuat opini.
warga porong peringati 4 th lumpur lapindo di ambil dr sini
Begitu pula, PT Lapindo telah mampu memegang para tokoh kunci serta ormas besar yang memiliki pengaruh di jatim melalui kooptasi. Sebagai contoh, ketika Pemilukada Gubernur Jatim berlangsung pada 2008, tak seorangpun calon yang bertarung yang memiliki agenda cukup serius untuk melakukan upaya politik dan hukum thd PT Lapindo sebagai platform politiknya. Sulit untuk menghilangkan kesan bahwa calon-calon yang berkompetisi pada saat itu sudah mendapatkan sesuatu sebagai imbalan untuk tidak mengutik-utik masalah yang satu ini sebagai bahan kampanye. Konsekuensinya, amanat penderitaan korban banjir Lapindo makin terlupakan karena semua yang memiliki kekuasaan telah terbungkam atau terhegemoni oleh kekuatan uang. Bahkan DPR yang mula-mula seolah punya keinginan untuk membuat semacam Tim ad hoc untuk masalah ini ternyata hanya tinggal bunyi janji kosong melompong. Toh rakyat Jatim yang ada di sekitar daerah bencana tersebut tetap saja memilih mereka kembali untuk duduk di DPR. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi apa yang disebut sebagai "banalitas" kasus Lapindo, sehingga kendati semua orang tahu bahwa para korban tetap belum disantuni dengan baik, tetapi tak ada keinginan untuk menggugat.

Bagi saya, kasus Lapindo adalah petunjuk paling jelas telah terjadinya proses pembusukan dalam politik di Indonesia paska reformasi. Pembiaran atau impunitas yang dilakukan aparat negara terhadap rakyatnya dan kemudian di "setujui" baik oleh seluruh komponen elite politik itu, sungguh merupakan sebuah kejahatan kemanusiaan yang mengerikan. Yang lebih mengerikan bagi saya, pada tataran masyarakat sendiri, tidak ada pula suatu greget atau rasa bahwa telah terjadi sebuah ketidak adilan terhadap sebagian dari saudara-saudara mereka. Mayoritas rakyat di jatim dan bahkan di daerah bencana tetap menganggap para politisi atau parpol yang bersekutu melakukan pembiaran layak dipilih sebagi wakil mereka di eksekutif dan legislatif. Quo vadis, kasus Lapindo?



ilustrasi gbr dari sini



27 komentar:

  1. pemerintah rada saraf.. dari duluuu engga pernah mihak sama rakyat kecil.. hiks

    BalasHapus
  2. Bener Sob , dari awaql kelihatan banget bahwa Kasus Lapindo merupakan Contoh ,terjadinya proses pembusukan dalam politik di Indonesia paska reformasi.
    Bayangin aja , Pada Kondisi dimana sebagian Rakyat kena bencana itu tapi Elite Politik Justru , sibuk macam2 aja..^0^

    BalasHapus
  3. Hmmmm Menyedihkan sekali....!! Kpn akan brakhir kasus lapindo ini.!! Ga ada yang bertanggung jawab.!!! Good blog and good post.

    BalasHapus
  4. tragis memang, nilai politik tlah membusuk,
    mengakibatkan derita rakyat kecil..

    hanya bisa berdo'a, semoga korban lapindo
    dapat hidup layak seperti semula..
    AMIN

    salm kawan.
    lama neh aku absen..

    BalasHapus
  5. pa Kabar kawan dah Lama ni ga' ada kabarnya...

    BalasHapus
  6. tragis memang,,
    para politikus udah dikebiri oleh uang. jadi intinya yang berkuasa tuh sebenarnya politikus atau uangnya ya???
    hehehe,

    aku juga punya temen yang nasibnya tragis gara2 Lapindo, untungnya dia gak nekat untuk menggadaikan harga dirinya,

    BalasHapus
  7. @5694071606807893029.0
    saraf sih engga'cuma bebal memulainya harus dari mana, rasanya bukan masalah lumpur saja...apapun yang sudah ketok cetho welo-welo tapi rakyat mulai apatis cenderung skeptis...

    BalasHapus
  8. @8580930046456784102.0
    Tapi masyarakatnya seneng lho ketika diajak slametan oleh lapindo Brantas, dikasi berkat, dikasi hiburan, dll..

    BalasHapus
  9. @5658941584220357195.0
    inilah indonesia,
    selamat datang :)

    BalasHapus
  10. @5765995891085928423.0
    smoga masalah ini cepet selesai ya sob,,Bs Bw lagi deh ntar,gw blm bs maen ke tmptmu..*sok sibuk gituuu :D

    BalasHapus
  11. @1106084704872496723.0
    halo jg,alhmadulilah kbrku sehat,, :)

    BalasHapus
  12. kapan yah selesainya kasus ini??
    berkunjung malam brada
    met malam

    BalasHapus
  13. sungguh sangat kasihan masyarakat korban Lumpur Lapindo sudah sampai sekian tahun pemerintah belum bisa juga mengatasinya ...

    BalasHapus
  14. ketika Warna Pemerintah sedang redup2 dengan berbagai masalah, maka permasalahan Lumpur Lapindo sudah bukan prioritas ...

    BalasHapus
  15. begitulah nasib orang kecil...

    BalasHapus
  16. ada banyak kepentingan di balik musibah ini, sehingga korban yang berposisi lemah selalu menjadi pihak yang kalah..

    BalasHapus
  17. kami kuatir jika bumi di bawah kota kami semakin melompong. semoga tak pernah terjadi musibah yang lebih besar lagi..

    BalasHapus
  18. muncuLnya bencana tersebut yang sampai saat ini beLum tersoLusikan dengan baik untuk menangai warga masyarakat disana, daLam persepsi saya seoLah-oLah seperti pemusnahan satu generasi maju.
    coba bayangkan (sebagai contoh), sebuah keLuarga petani yang hanya mengandaL Lahannya untuk mencari nafkah dan biaya pendidikan anak-anaknya, LaLu saat ini ia tidak bisa mencari nafkah Lagi karena memang tidak punya keahLian Lain, sehingga anak-anaknya terpaksa harus turun ke jaLan untuk ikut membantu orang tuanya mencari makan, sementara pendidikannya menjadi terbengkaLai karena haL tersebut. dan masih masih banyak contoh Lainnya.
    ---------------
    daLam pemikiran saya, kaLau ada caLon kepaLa daerah yang bersedia untuk mensoLusikan masaLah tersebut, saya tidak akan memiLih siapapun, begitupun pada pemiLu berikutnya. juga akan saya Lakukan haL tersebut untuk pemiLu-pemiLu nerikutnya kaLau saya sudah terLanjur harus meneLan piL janji tanpa reaLisasi yang signifikan.
    nah, itu yang ada daLam pemikiran saya. LaLu ada berapa juta orang disana yang poLa pikirnya sama dengan saya.
    semoga bangsa ini tidak menjadi terpuruk karena uLah dari para oknum pemimpinnya itu sendiri.

    BalasHapus
  19. Jalan-jalan di lapindo sambil nunggu hasil jurney yang baru xD

    BalasHapus
  20. Lapindo.. permasalahan yang tak kunjung selesai.
    Bangsa ini seharusnya tidak berkutat dengan persoalan siapa yang salah melulu, tapi mari introspeksi diri... apa yang salah dengan kita, sehingga diberikan ujian ini ...

    BalasHapus
  21. mungkin hanya butuh waktu untuk melihat bagaimana cara mereka menyelesaikan itu semua. memang sudah terlalu berlarut-larut, tapi itu ujian dari NYA yang sudah menggoreskan takdir untuk mereka para korban. cukup iklas dan berserah :) follow back ya.

    BalasHapus
  22. lapindo menulai tanya, cobaan, perhatian yang serius....semangat saudara yang tertinpa musibah luar biasa ini

    BalasHapus
  23. thanks bro for this information :)

    BalasHapus
  24. Ini dia nih yang jadi batu sandungan si ARB pada pilpres mendatang...

    BalasHapus

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Sekitar Kita | Powered by Blogger
Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com