Catatan pribadi tentang apa saja

Minggu, 21 Maret 2010

Gagasan Elegan Melalui Tulisan

Coba bayangkan, seandainya kemampuan menyampaikan kritik melalui tulisan dosen kita tinggi, bisa jadi aksi jalanan yang terkesan “urakan” yang terjadi dalam aksi mahasiswa di beberapa daerah beberapa waktu yang lalu tak akan terjadi. Karena bagaimanapun, bukankah esensi dari aksi tersebut adalah menyampaikan gagasan dan aspirasi? Dan bukankah pula solusi yang disampaikan dengan kesantunan akan lebih menarik simpati dan terkesan elegan?

Sejarah telah mencatat hal tersebut. Bagaimana Multatuli, nama samaran Douwes Dekker melawan kolonialisme Belanda terhadap pertiwi lewat tulisan yang berisi sindiran atas kesewenangan kolonial Belanda terhadap pribumi. Simak juga Soekarno, Hatta, Natsir, Chairil Anwar, mereka senantiasa melakukan protes dan kritik sosialnya melalui tulisan-tulisan yang tajamnya melebihi sangkur senapan.




Tak aneh jika Napoleon lebih takut kepada penulis dibandingkan dengan ribuan tentara, karena dari sebuah tulisan bisa membakar semangat dan menggerakkan rakyat melebihi kekuatan ribuan tentara. Hal lain dari kekeuatan tulisan, adalah minim resiko “efek samping” perang terbuka antara penjaga negara (aparat keamanan) dengan pengkritik kebijakan.

Adalah wajar jika saat ini mahasiswa lebih pandai menggebrak meja, ngomong sana sini tanpa sistematika yang jelas, dan cenderung mengedepankan emosi. Bukankah hal itu juga telah dicontohkan pula oleh para dosen kita? Dosen-dosen kita lebih banyak yang hanya pandai beretorika, berbicara tanpa sistematika, namun tumpul kemampuan mengungkapkan gagasannya dalam bentuk tulisan. 

Lihat saja beberapa media di sekitar kita. Berapa banyak dosen-dosen kita yang berani menuangkan gagasannya lewat media? Sangat sedikit sekali bukan? Kalaupun ada, itupun hanya beberapa orang dosen dan orang yang itu-itu saja. Menuangkan gagasan di media massa seharusnya menjadi wadah yang begitu strategis bagi para dosen dalam mengungkap gagasan mereka. Hal ini dikarenakan tulisan yang ada dalam media massa akan lebih mudah diterima semua kalangan. Bukankah dengan hal seperti itu maka akan lebih banyak orang yang menerima gagasan dari dosen kita dibandingkan sekadar retorika di depan kelas semata? Nantinya penikmat media juga akan lebih dikayakan pengetahuannya, karena bisa menikmati aneka gagasan dan pandangan dari berbagai sudut keilmuan. 

Rasanya pihak media perlu menjembatani ketimpangan yang saat ini ada, mengingat tak sedikit dosen yang biasa menulis dalam bahasa ilmiah, namun terkendala ketika menulis dalam bahasa media massa. Ada kalanya juga yang benar-benar tidak bisa menuliskan dalam bahasa keduanya. Namun lebih banyak lagi yang “pelit” menyimpan pengetahuannya, dengan hanya menyimpan gagasannya, ada yang dalam bentuk jurnal ilmiah semata, lebih banyak lagi yang menyimpannya dalam alam pikiran mereka. 

Jika para dosen mampu memberikan contoh positif menyuarakan gagasan dalam bentuk tulisan yang elegan, bisa jadi aksi jalanan akan sedikit banyak ditinggalkan. Mahasiswa tentu akan mengikuti jejak para dosennya, lebih banyak berperang dalam hal pemikiran. Toh, hasil yang didapatkan tentu tidak jauh berbeda dengan aksi jalanan, yaitu keberhasilan dalam menyampaikan gagasan kepada masyarakat banyak, dan tentunya melawan dengan tulisan akan terkesan lebih elegan.


23 komentar:

  1. berarti dosen harus dididik supaya bisa nulis gagasan brilliant mereka...

    nice posting lagi... ^_^

    BalasHapus
  2. benar sekali mas, tulisan akan tampak elegan jika bersamaan dengan "action", diimbangi tanpa menghapus massa yang pandai menggebrak meja, kita butuh itu. jika sasarannya tokoh politik nggak sehat, koruptor atau ekstrim ideo,. paling mereka akan mengatakan, "Peduli apa sama tulisanmu".

    Nice post mas.

    BalasHapus
  3. jadi Tulisan... merupakan cara yang paling baik buat sampein unek - unek ketimbang ayunan tangan?

    BalasHapus
  4. emang banyak yang ga pinter nulis, contohnya aku... salut buwat u sob, yang jago nulis - nulis

    BalasHapus
  5. Kunjungan malam sobat, topik menarik bwt di diskusikan..salam

    BalasHapus
  6. Bangsa kita emang lagi krisis moral dan etika sob..bukan krisis ekonomi yg banyak di bicarakan...!!!

    kita berdoa saja semoga Bangsa ini bisa menjadi bangsa yg jauh lebih dewasa dalam hal berpikir dan bertindak...!!!

    Thank's da comment yach...!!!

    BalasHapus
  7. It's Ok
    saya sepakat dengan argumen yang ada dalam tulisan diatas. memang jadi sebuah profesi GURU/Dosen tidak lah hanya untuk tampil di muka kelas saja. tapi juga harus bisa mengekspresikan kepiawaiaannya sebagai salah satu pemegang amanah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. terlebih dengan pengangkatan Guru/Dosen menjadi sebuah profesi yang di hormati dan di junjung tinggi. Untuk itu jangan sampai menodai ikon GURU pahlawan tanpa tanda jasa yang sudah harum dan mulia, hanya karena keangkuhan dan materialisme semata. Untuk itu Guru/Dosen sudah sepatutnya untuk ikut mendedikasikan dirinya dengan berjuta gagasan sesuai bidang garapnya, sehingga akan tersalurkan dan menjadikan ilmu itu bermanfaat dunia akhirat. Bangkitlah Dunia Tulis Pendidikan Indonesia

    BalasHapus
  8. Artikel yang sangat bermanfaat kawand.

    BalasHapus
  9. Nice post gan !

    met pagi yak !

    BalasHapus
  10. pena memang lbh tajam dari lisan...

    BalasHapus
  11. Jadi inget ama Jose Rizal, Pramudya, HAMKA dan penulis2 lainnya. Semoga, kelak lahir cendikiawan yang pandai dan bijak dalam mengutarakan idenya melalui tulisan. Insya Allah.

    BalasHapus
  12. bagus sekali analisisnya sob.
    bener juga, mungkin ini yg jadi pemicu munculnya anarkis di diri mahasiswa. Lha mentornya saja demikian? Sungguh ironis bagi negri ini...
    'Kata adalah senjata', dan bisa jadi lebih manjur dari senjata itu sendiri.
    Salam hangat.

    BalasHapus
  13. Setuju bahwa tulisan dapat memberi pengaruh, dampak yang sangat besar.
    PErjalanan masih panjang untuk ke situ.

    BalasHapus
  14. bener juga
    *ketap-ketip*
    nice post sob.

    BalasHapus
  15. Sayapun mencoba menyampaikan uneg2 lewat tulisan ( obrolan di warung kopi ), barangkali itu lebih mudah bagi saya ketimbang ikut demo...

    BalasHapus
  16. mia juga tipe lbh bisa menyampaikan sesuatu dg menulis daripada melalui kata2 langsung

    BalasHapus
  17. kali ini aq g bisa komentar panjang lebar mas aan masih bingung aq memahaminya

    BalasHapus
  18. tepat sekali pendapatnya sahabat, akan tetapi dewasa ini minat membaca itu sangat rendah, terlebih kita tahu bersama wong demo turun kejalan saja kurang mendapat respon apalagi melaui tulisan, jangan2 dibacapun tidak

    BalasHapus
  19. untuk menyampaikan pendapat mungkin saja tidak hanya melalui media cetak tapi mungkin akan efektif bila mempergunakan media elektronik seperti misalnya TV.

    BalasHapus
  20. setubuh bung...katanya sih goresan pena lebih tajam dari pada sayatan pedang...tp kenapa musti batu yg berterbangan...mungkin para mahasiswa urakan itu pada buta huruf kali yeee

    BalasHapus
  21. Sesungguhnya, semua ini telah kuperhatikan, semua ini telah kuperiksa, yakni bahwa orang-orang yang benar dan orang-orang yang berhikmat dan perbuatan-perbuatan mereka, baik kasih maupun kebencian, ada di tangan Allah; manusia tidak mengetahui apapun yang dihadapinya.
    Segala sesuatu sama bagi sekalian; nasib orang sama: baik orang yang benar maupun orang yang fasik, orang yang baik maupun orang yang jahat, orang yang tahir maupun orang yang najis, orang yang mempersembahkan korban maupun yang tidak mempersembahkan korban. Sebagaimana orang yang baik, begitu pula orang yang berdosa; sebagaimana orang yang bersumpah, begitu pula orang yang takut untuk bersumpah.
    Inilah yang celaka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari; nasib semua orang sama. Hati anak-anak manusiapun penuh dengan kejahatan, dan kebebalan ada dalam hati mereka seumur hidup, dan kemudian mereka menuju alam orang mati.

    Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati.
    Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap.
    Baik kasih mereka, maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang, dan untuk selama-lamanya tak ada lagi bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari.
    Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu.
    Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu.
    Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari.
    Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.
    Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.
    Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.

    BalasHapus

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Sekitar Kita | Powered by Blogger
Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com