Catatan pribadi tentang apa saja

Jumat, 26 Maret 2010

Lukisan yang rusak

Suatu hari ada seorang pelukis terkenal sedang menyelesaikan lukisannya dan lukisan ini adalah lukisan yang sangat bagus. Sang pelukis ketika menyelesaikan lukisannya sangat senang dan memandangi lukisan yang berukuran 2×8 m dan sambil memandanginya pelukis tersebut berjalan mundur. dan ketika berjalan mundur pelukis tersebut tidak melihat ke belakang. dia terus berjalan mundur dan dibelakang adalah ujung dari gedung tersebut yang tinggi sekali dan tinggal satu langkah lagi dia mengakhiri hidupnya.

Salah seorang melihat pelukis tersebut dan hendak berteriak untuk memperingatkan pelukis tersebut tapi tidak jadi karena dia berpikir sekali dia berteriak pelukis tersebut malah bisa jatuh. Kemudian orang yang melihat pelukis tersebut mengambil kuas dan cat yang ada didepan lukisan tersebut lalu mencoret-coret lukisan tersebut sampai rusak. Pelukis tersebut sangatlah marah dan maju hendak memukul orang tersebut. tetapi beberapa orang yang ada disitu menghadang dan memperlihatkan posisi pelukis tadi yang nyaris jatuh.

Kadang-kadang kita telah melukiskan masa depan kita dengan sangat bagus dan memimpikan suatu hari yang indah bersama dengan pasangan yang kita idamkan. tetapi lukisan itu kelihatannya dirusak oleh Tuhan, karena Tuhan melihat bahaya yang ada pada kita kalau kita melangkah. Kadang-kadang kita marah dan jengkel terhadap Tuhan atau juga terhadap pemimpin kita. tapi perlu kita ketahui Tuhan selalu menyediakan yang terbaik untuk kita


 source: Andika arie


.

23 komentar:

  1. Salut ma artikelx sob, penuh dgn bhs Pilsafat hidup..;-)..

    BalasHapus
  2. thx atas pencerahannya, very good article...

    BalasHapus
  3. Artikl yang sangat bermanfaat kawand...

    BalasHapus
  4. RENUNGAN YANG MANTAP. HEBAT, KAWAN.

    BalasHapus
  5. Wah, artikelnya sungguh membuatku terpana beberapa saat kawan. Mantap.

    BalasHapus
  6. Wah...perumpamaan yang bagus, setuju banget...! Tuhan pasti tahu apa yang terbaik buat kita...

    BalasHapus
  7. ya kita sering memandang suatu peristiwa saat ini saja tanpa memikirkan damapaknya dikemudian hari

    BalasHapus
  8. terkadang (ato malah sering y..? :D) sesuatu yang baik buat kita tidak selalu tersirat dalam bentuk yang indah dan kita inginkan. dan sebagai manusia biasa kita pun seringkali salah mengartikan pertanda" d sekitar kita..
    [CMIIW] ^_^

    BalasHapus
  9. tuhan engga merusak lukisan itu, tapi menghadiahkan kita lukisan yang lain yang lebih bagus yang lebih indah dari lukisan yang sebelumnyaaa...

    BalasHapus
  10. bagus buat renungan sob. .
    met pagi yak ,

    BalasHapus
  11. Wah....... Wuih.... Kayaknya Pengalaman Pribadi Nich.....????

    BalasHapus
  12. yups setuju sekali.. Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk umatNya.. apapun rencana kita, Tuhan sudah mempunyai rencana sendiri.. mantab deh artikelnya..
    salam kenal yak... :)

    BalasHapus
  13. sangat filosofis..

    salam kenal..

    ini kunjungan perdana kemari..

    BalasHapus
  14. Lukisan kehidupan memang jauh lebih penting dari segala lukisan lainnya.

    BalasHapus
  15. Bener tuh artikelnya... bagus banget

    BalasHapus
  16. Wah.. menarik banget postingannya dan ada pencerahan didalamnya.. Kayaknya Mas Aan ini ga pernah surut akan ide menulis yah ? aku jadi ngiri nih..... :)

    BalasHapus
  17. hai sobat,, mampir kerumah donk,,
    Ada award baru tuh buat kamu,,
    silahkan dilihat awardnya ia..

    BalasHapus
  18. Brkunjung bwt sobat..,salam

    BalasHapus
  19. Allah tidak memberi apa yg kita inginkan tp memberi apa yg kita butuhkan, sangat bermanfaat artikelnya, makanya ambil hikmah di balik setiap apa yg kita terima, meskipun g sesuai dengan apa yg kita inginkan

    BalasHapus
  20. pertolongan Tuhan datang dengan misterius bung...kadang kita gak bisa menerimanya...

    BalasHapus
  21. no comment...!!! too amazing....

    BalasHapus
  22. Sesungguhnya, semua ini telah kuperhatikan, semua ini telah kuperiksa, yakni bahwa orang-orang yang benar dan orang-orang yang berhikmat dan perbuatan-perbuatan mereka, baik kasih maupun kebencian, ada di tangan Allah; manusia tidak mengetahui apapun yang dihadapinya.
    Segala sesuatu sama bagi sekalian; nasib orang sama: baik orang yang benar maupun orang yang fasik, orang yang baik maupun orang yang jahat, orang yang tahir maupun orang yang najis, orang yang mempersembahkan korban maupun yang tidak mempersembahkan korban. Sebagaimana orang yang baik, begitu pula orang yang berdosa; sebagaimana orang yang bersumpah, begitu pula orang yang takut untuk bersumpah.
    Inilah yang celaka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari; nasib semua orang sama. Hati anak-anak manusiapun penuh dengan kejahatan, dan kebebalan ada dalam hati mereka seumur hidup, dan kemudian mereka menuju alam orang mati.

    Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati.
    Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap.
    Baik kasih mereka, maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang, dan untuk selama-lamanya tak ada lagi bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari.
    Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu.
    Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu.
    Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari.
    Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.
    Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.
    Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.

    BalasHapus

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Sekitar Kita | Powered by Blogger
Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com